Tugas
Individu
KRISIS
EKONOMI INDONESIA DAN GLOBAL

Diajukan
untuk melengkapi Tugas Ekonomi Internasional
Oleh:
ANNISA INAYATUL AINI
NPM : 1351010057
Program Studi : Ekonomi Islam
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN
INTAN
LAMPUNG
2016 M
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas semua karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Ekonomi Internasional yang berjudul “Krisis Ekonomi Indonesia dan Global”.
Tujuan penulisan makalah
ini antara lain dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Internasional Jurusan Ekonomi Islam kelas F, selain itu
dalam rangka menambah wawasan perihal Ekonomi Internasional serta untuk dapat
membantu dalam penerapan di kehidupan sehari-hari.
Kami mengucapkan terimakasih terhadap semua pihak
atas bantuan baik berupa bimbingan maupun masukan materi yang bermanfaat. Saya menyadari bahwa
penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang
membangun sangat saya harapkan demi kelanjutan makalah ini di masa
mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
Terima kasih.
Bandar Lampung, 09 Juni 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................ iii
BAB I: PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang.................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................................... 3
1.3.Tujuan penulisan.................................................................................................. 3
BAB II : PEMBAHASAN.................................................................................................. 4
2.1. KRISIS EKONOMI INDONESIA................................................................... 4
2.2. KRISIS EKONOMI GLOBAL......................................................................... 6
2.3. FAKTOR-FAKTOR KRISIS EKONOMI........................................................ 7
2.4. TINDAKAN PENCEGAHAN KRISIS........................................................... 13
2.5. ANALISIS KRISIS EKONOMI INDONESIA
DAN GLOBAL................... 19
BAB III : PENUTUP.......................................................................................................... 25
3.1. Kesimpulan......................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 27
BAB I
PEDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan semakin terintegrasinya perekonomian di tengah
eraglobalisasi, krisis keuangan yang terjadi pada suatu negara dapat dengan
mudah menyebar ke negara-negara lain dan menjadi bencana keuangan global dalam
kurun waktu yang singkat. Pada kejadian semacam ini, fundamental ekonomi yang
kuat sangat penting untuk mempertahankan suatu negara dari efek krisis yang
“menular”. Sebagai bukti, karena fundamental ekonomi yang rapuh dan kurangnya
kredibilitas pemerintah, perekonomian Asia Timur dapat diserang dengan
mudah oleh krisis pada tahun 1997 begitu
kepercayaan pasarmemburuk. Namun demikian, Asia Timurini telah belajar banyak
dari kejadian pada tahun 1997 tersebut sehingga dapat membuktikan ketahanannya
dalam menghadapi krisis keuangan global yang melanda pada tahun 2008 dengan
meningkatkan fundamental ekonominya serta kredibilitas para pembuat kebijakan.
Makalah ini dimulai dengan teori tentang pertumbuhan ekonomi dan krisis
keuangan. Selanjutnya, secara empiris menguji sejauh mana krisis keuangan pada
tahun 1997 dan 2008 mempengaruhi perekonomian Asia Timur dengan menggunakan
data panel ekonometri. Bukti menunjukkan bahwa, meskipun kedua krisis telah
memberikan dampak buruk pada perekonomian Asia Timur, gelombang krisis 2008
relatif tidak lebih parah daripada krisis tahun 1997.
Sejak era globalisasi, krisis keuangan menjadi lebih sering terjadi
daripada sebelumnya. Salah satu alasan utamanya adalah kemajuan dalam teknologi
informasi, yang, sampai batas tertentu, memperbesar gelombang krisis dan
mempercepat penyebarannya ke daerah atau negara lain. Alasan lain adalah
perkembangan pesat dari sektor keuangan. Salah satu contoh adalah munculnya
International Financial Integration (IFI). Dalam hal ini, Edison et al. (2002) menjelaskan
bahwa IFI mengacu pada “sejauh mana suatu perekonomian tidak membatasi
transaksi lintas batas” (halaman 1). Oleh karena itu, karena sistem keuangan
yang terintegrasi, timbulnya gangguan keuangan domestik di satu negara dapat
mengakibatkan efek domino dengan cara mengacaukan ekonomi terintegrasi lainnya
yang mengarah kepada kekacauan keuangan global.
Dalam dua dekade terakhir, setidaknya dua krisis keuangan besar terjadi,
yaitu Krisis Keuangan Asia Timur 1997 dan Krisis Keuangan Global 2008. Jika krisis
pada tahun 1997 disebabkan oleh kurangnya transparansi dan kredibilitas
pemerintah yang menyebabkan distorsi struktural dan kebijakan (lihat contoh
Corsetti et al., 1999), gejolak ekonomi tahun 2008 terutama dipicu oleh inovasi
yang cepat dalam produk keuangan seperti praktek sekuritisasi dan “ credit
default swap” . Hal ini diperburuk oleh spekulasi properti dan peringkat kredit
yang tidak akurat. Pada kedua kasus, perkembangan krisis menyebar ke
benua-benualain dan, dalam waktu singkat, menjadi krisis global karena efek
menular di tengah sistem keuangan yang terintegrasi secara global dan
persebaran informasi yang cepat.
Meskipun sumber krisis dapat bervariasi, konsekuensi dari krisis keuangan
selalu dikaitkan dengan indikator makroekonomi, khususnya pertumbuhan ekonomi.
Sebagai contoh, selama krisis Asia Timur, pertumbuhan ekonomi Asia Timur jatuh
dari wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia menjadi wilayah yang beberapa
negara anggotanya mencatat pertumbuhan pendapatan yang negatif pada tahun 1998
seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Filipina dan Thailand.
Selanjutnya, Indonesia, Thailand dan Korea Selatan harus meminta program
pinjaman dana talangan ke Dana Moneter Internasional (IMF). Di sisi lain,
selama krisis 2008, meskipun sumber krisis disebabkan oleh runtuhnya
lembaga-lembaga keuangan internasional di barat, terutama di Amerika Serikat
dan Inggris, beberapa negara Asia Timur seperti Malaysia, Singapura dan
Thailand juga diseret ke krisis dengan mengalami pembebanan keuangan besar.
Namun demikian, statistik menunjukkan bahwa dampak krisis pada tahun 2008 di
negara-negara Asia Timur tidak seburuk pada tahun 1997. Selain itu,
negara-negara ini berhasil pulih dengan cepat. Dalam hal ini, banyak yang
berpendapat bahwa negara Asia Timur telah belajar banyak pada tahun 1997 dan
berhasil menahan krisis pada tahun 2008 melalui fundamental ekonomi yang telah
diperkuat.[1]
2.1. Rumusan Masalah
1. Apakah faktor-faktor yang
menyebabkan krisis ekonomi Indonesia dan global?
2. Bagaimana tindakan pencegahan krisis ekonomi Indonesia
dan global?
3. Bagaimana analisis krisis ekonomi
Indonesia dan global?
2.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui faktor-faktoryang menyebabkan krisis ekonomi Indonesi
dan global, tindakan pencegahan krisis ekonomi Indonesi dan global serta
menganalisis krisis ekonomi yang terjadi Indonesia dan global.
2. Untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan yang lebih mendalam
mengenai Ekonomi Internasional khususnya mengenai Krisis Ekonomi Indonesia dan
Global.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. KRISIS EKONOMI INDONESIA
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menjelang akhir tahun 1997 dan
mencapai klimaksnya pada tahun 1998 sangat memukul perekonomian Indonesia. Pada
tahun 1998 PDB merosot tajam hingga 13% yang membuat pendapatan per kapita juga
menurun drastic. Merosotnya PDB hingga 13% bukan suatu hal yang kecil, mengigat
bahwa sepanjang sejarah Indonesia sejak 1945 hingga 1996 ekonomi Indonesia
belum pernah mengalami pertumbuhan PDB hingga 13%. Dilihat hingga sekarang,
pertumbuhan ekonomi tertinggi yang pernah dialami Indonesia adalah sekitar 7% hingga 8%
rata-rata per tahun pada era orde baru. Tidak heran jika krisis tersebut
membuat “keajaiban Indonesia” selama pemerintahan soeharto menjadi tidak ada artinya
lagi. Sektor keunagan/perbankan yang pada masa orde baru berkembang sangat
(bahkan terlalu) pesat, terutama sejak deregulasi pertama di sektor tersebut
pada awal decade 80-an. Hancur sama sekali, terutama karena kredit macet antar
bank. Dari sisi suplai, sektor industri manufaktur dan sektor konstruksi (bangunan), yang pada era orde baru bukan
saja berkembang sanat pesat, tetapi juga sebagai motor utama pertummbuhan
ekonomi juga mengalami penurunan produksi yang signifikan. Praktis hampir semua
sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negative.
Dalam nilai nominal, sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan positif
selama 1998 hanya pertanian dengan 1,31%, listrik, gas dan air bersih 3.11%,
dan pengangkutan dan komunikasi 16,23%. Pertumbuhan positif sektor pertania
terutama karena dukungan subsector perkebunan, kehutanan, dan perikanan yang
produksinya terus meningkat. Selain itu, sumber lain yang membuat sektor ini
tetap bisa meningkatkan output-nya
bersumber dari pertumbuhan ekspornya. Jatuhya nilai tukar rupiah terhadap dolar
AS membuat harga komoditas-komoditas pertanian dalam dolar AS menjadi lebih
murah, yang membuat daya saing harga dari sektor pertanian meningkat.[2]
Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sangat tergantung pada impor untuk
memproduksi juga tidak melakukan hedging.
Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dengan sendirinya membuat biaya
impor yang berarti juga biaya produksi meningkat tajam. Banyak prusahaan yang
tidak sanggup menanggung ekstra beban biaya tersebut terpaksa mengurangi impor
yang berarti mengurangi volume produksinya. Bahkan banyak juga perusahaan yang
terpaksa tutup, yang selanjutnya mengakibatkan jumlah pengangguran dan tingkat
kemiskinan meningkat. Sedangkan perusahaan-perusahaan yang mau tetap impor juga
mengalami kesulitan karena letter of
credot (L/C) yang dikeluarkan oleh bank-bank nasional ditolak oleh
bank-bank di luar negeri, setelah mereka mengetahuibahwa bank-bank di Indonesia
sedang mengalami kebangkrutan.[3]
Semenjak kenaikan harga minyak dunia yang menembus kisaran US $110 per
barel pada awal tahun 2008 yang menggoncangkan stabilitas ekonomi makro di
banyak negara, dengan syntom kenaikan inflasi dan pengeluaran negara untuk
kepentingan subsidi. Sementara Indonesia yang kondisi ekonomi makronya relatif
baik dalam tiga tahun terakhir ini harus menerima kenyataan pahit dari dorongan
perubahan eksternal dengan melakukan penyesuaian anggaran. Konsumsi BBM di
dalam negeri yang terus meningkat hingga mencapai 1,3 juta barel per hari,
merupakan sebuah realita yang harus diderita Indonesia. Bahkan pergeseran angka subsidi BBM dan listrik yang
semakin membebani APBN, nyaris menghabiskan seperempat alokasi anggaran APBN.
Kenaikan BBM dan tariff Listrik serta ancaman inflasi dapat berakibat fatal
bagi perekonomian rakyat, rakyat miskin akan terpukul dan bertambah jumlahnya.
Mensikapi hal ini secara politis pemerintah menjaga momentum pertumbuhan
ekonomi, stabilisasi makro dan sikap perhatian kepada rakyat, (mempertahankan
subsidi baik BBM, Listrik, BLT, dan lain sebagainya), dan kebijaksanaan fiskal/pemotongan anggaran
untuk jangka pendek. Bagi pemerintah tidak banyak opsi untuk menghadapi
persoalan eksternal yang cukup pelik dari gejolak ekonomi dunia yang belakangan
ini semakin destruktif. Opsi kebijakan yang diambil sebagai apresiasi meminimalisasi dampak negatif yang lebih luas
agar tidak merusak tatanan ekonomi makro yang
telah dibangun. Selama rezim Orde Baru berkuasa, pembagian manfaat dari
hasil pembangunan antara bangsa Indonesia dengan bangsa asing tidak pernah
dihitung. Sebagai contoh: minyak yang
begitu penting dan strategis 85% dieksploitasi oleh asing dan Pertamina hanya
menerima 15% saja (Kwik Kian Gie 18 Februari 2008). Kontrak bagi hasil yang
formulanya 85% untuk Indonesia dan 15% untuk kontraktor asing, kenyataannya
sampai saat ini pembagiannya 60% untuk Indonesia dan 40% untuk perusahaan
minyak asing, karena cost recovery yang memberatkan Indonesia bebannya
dialihkan kepada kontraktor.[4]
2.2. KRISIS EKONOMI GLOBAL
Krisis global
adalah peristiwa dimana seluruh sektor ekonomi di pasar dunia mengalami
keruntuhan (keadaan gawat) dan
mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Krisis global ini berawal pada
negara adidaya Amerika Serikat (AS) dimana dimulai dari kredit macet perumahan
di Amerika Serikat yang merupakan sentrum bagi perekonomian dunia. Akibat dari
krisis global yang terjadi di AS, ini member dampak besar pada dunia.
Ini dapat kita lihat bahwa negara adidaya yang
memegang kendali ekonomi pasar dunia yang mengalami keruntuhan besar dari
sektor ekonominya. Bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan
dan bank-bank besar di Negeri Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu
saja. Bangkrutnya Lehman Brothers langsung mengguncang bursa saham di seluruh
dunia. Bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China,
Asutralia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan
drastis 7 sd 10 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia,
Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, Para
investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar.
Krisis ekonomi mempunyai empat unsur yang
jelas. Unsur yang pertama adalah kejadian yang penuh resiko. Ini adalah
kejadian yang mengawali suatu reaksi yang berantai dari kejadian-kejadian yang
mencapai puncaknya dalam suatu krisis. Unsur yang kedua adalah keadaan rentan.
Tidak semua peristiwa ini membawa seseorang kepada suatu krisis. Kalau krisis
tidak rentan, pasti krisis itu tidak akan mungkin terjadi. Unsur yang ketiga
adalah faktor-faktor yang menimbulkan krisis tersebut. Artinya faktor terakhir
yang perlu di tambahkan adalah krisis yang aktif. Sedangkan arti istilah global
dianggap berkaitan erat dengan “sedunia, secara masal, secara umum”. Jadi
krisis global adalah suatu keadaan gawat, krisis yang terjadi di seluruh dunia
atau mendapat dampak di seluruh dunia (Abdullah, 2008).
Menurut
(Anonimous, 2008) adapun terjadinya krisis global di akibatkan adanya
beberapa faktor antara lain:
1. Tingginya harga kebutuhan
2. Penyaluran kredit secara berlebihan
sehingga tidak memperhatikan kemampuan
membayar dari konsumen.
3. Krisis kepercayaan dari para pelaku
pasar, warga Negara, bahkan antar Negara
4. Spekulasi berlebihan dari para
spekulan
5.
Bidang usaha dari ekonomi makro tidak berjalan seiring dengan ekonomi mikro
Ini menyebabkan banyak perusahaan-perusahaan
atau industry yang gulung tikar, yang disebabkan tidak mampunya mengatasi
krisis ekonomi global. Dampaknya bagi pekerja banyaknya pekerja yang di PHK
yang akan menimbulkan banyak pengaguran dan meningkatnya angka kemiskinan.[5]
2.3. FAKTOR-FAKTOR KRISIS EKONOMI
Krisis keuangan global telah terjadi.
Berbagai pihak mengaitkannya dengan kondisi perekonomian negara Amerika
Serikat. Ketika kondisi perekonomian sebuah negara adidaya berubah dan
mengalami goncangan, dapat dipastikan akan membawa konsekuensi yang luas pada
perekonomian dunia. Media massa di
berbagai belahan dunia dengan gencar memberitakan krisis keuangan Amerika
Serikat yang telah mempengaruhi tatanan sistem keuangan berbagai negara di benua
Amerika, Eropa, Asia Pasifik, Asia Selatan, bahkan Timur Tengah.
A.
Bermula
dari Subprime Mortgage
Sejak tahun 1925, di Amerika Serikat
sudah ada Undang-undang Mortgage. Peraturan
yang berkaitan den- gan sektor properti, termasuk kredit pemilikan
rumah. Semua warga AS --asalkan memenuhi syarat tertentu-- bisa mendapatkan
kemudahan kredit kepemilikan prop- erti, seperti KPR. Kemudahan pemberian
kredit terjadi ketika harga properti di AS sedang naik. Kegairahan pasar property membuat spekulasi
di sektor ini meningkat. Para pe- nyedia kredit properti memberikan suku bunga
tetap se- lama tiga tahun. Hal itu
membuat banyak orang mem- beli rumah dan berharap bisa menjual dalam
tiga tahun sebelum suku bunga disesuaikan. Permasalahannya, banyak lembaga
keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada
penduduk yang sebenarnya tidak layak mendapatkan pembiayaan. Mereka adalah orang dengan latar belakang
non-income non-job non-activity (NINJA) yang tidak mempunyai kekuatan ekonomi
untuk menyelesaikan tanggungan kredit yang mereka pinjam. Situasi tersebut
memicu terjadinya kredit macet di sektor properti (subprime mortgage).
Selanjutnya, kredit macet di sektor
properti mengakibatkan efek domino ambruknya lembaga-lembaga keuangan besar di
Amerika Serikat. Pasalnya, lembaga pembiayaan sektor properti pada umumnya
meminjam dana jangka pendek dari pihak lain, termasuk lembaga keuangan. Jaminan yang diberikan perusahaan pembiayaan
kredit properti adalah surat utang, mirip subprime mortgage securities, yang
dijual kepada lembaga-lembaga investasi dan investor di berbagai negara.
Padahal, surat utang itu ditopang oleh jaminan debitor yang kemampuan membayar
KPR-nya rendah.
Dengan banyaknya tunggakan kredit
properti, perusahaan pembiayaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada lembaga-lembaga
keuangan, baik bank investasi maupun asset management. Hal itu mempengaruhi
likuiditas pasar modal maupun sistem perbankan.
Setelah itu, terjadi pengeringan likuiditas lembaga- lembaga keuangan
akibat tidak memiliki dana aktiva untuk membayar kewajiban yang ada.
Ketidakmampuan bayar kewajiban tersebut membuat lembaga keuangan lain yang
memberikan pinjaman juga terancam bangkrut.
Kondisi yang dihadapi lembaga-lembaga
keuangan besar di Amerika Serikat juga
mempengaruhi likuiditas lembaga keuangan lain, yang berasal dari Amerika
Serikat maupun di luar Amerika Serikat. Terutama lembaga yang menginvestasikan uangnya melalui
instrumen lembaga keuangan besar di Amerika Serikat. Di sinilah krisis keuangan
global bermula. Untuk menghindari meluasnya krisis subprime mortgage dan
membawa dampak buruk terhadap perekonomian Amerika Serikat, pemerintah Amerika
Serikat dan Bank Sentral Amerika (The Fed) mengeluarkan kebijakan untuk
membantu beberapa lembaga-lembaga keuangan besar tersebut. Upaya tersebut sekaligus dikemas dalam
kebijakan moneter untuk menekan angka inflasi serta menstabilkan nilai tukar
mata uang dolar Amerika Serikat. Rangkaian tindakan antisipasi di Amerika
Serikat telah dimulai pada tanggal 5 September. Saat itu, pemerintah AS
mengambil alih perusahaan pembiayaan Fannie Mae dan Freddie Mac untuk
penyehatan arus kas dua perusahaan tersebut.
Selanjutnya, pada tanggal 16 September The Fed mengucurkan pinjaman USD
85 miliar ke American International Group untuk mengambil alih 80 persen saham
perusahaan asuransi tersebut. Pada
tanggal 18 September 2008, Pemerintah AS meminta Kongres untuk menyetujui paket
penyelama- tan ekonomi, berupa dana talangan pemerintah (bail- out) USD 700
miliar. Presiden George Bush menyatakan perekonomian AS dalam bahaya jika
Kongres tidak menyetujui rencana bailout.
Meskipun demikian, tanggal 29 September 2008, Kongres AS menolak rencana
bailout. Akibatnya, In- deks Dow Jones merosot 778 poin, posisi yang terbe- sar
dalam sejarah pasar saham di Amerika Serikat.
Akhirnya tanggal 3 Oktober 2008, Kongres
menyetujui bailout. Selanjutnya, Presiden Bush menan- datangani UU Stabilisasi
Ekonomi Darurat 2008. Undang-undang yang memuat rencana pengucuran dana
talangan pemerintah (bailout) sebesar USD 700 miliar untuk mengambil alih
beberapa perusahaan dan lembaga keuangan yang merugi di pasar modal AS.
B.
Krisis
Keuangan AS yang Mengglobal
Masalah subprime mortgage di Amerika
Serikat sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Agustus 2007. Hal itu sudah
ditengarai akan menjadi gelembung subprime (bubble), akan tetapi pemerintah
Amerika Serikat terus mengucurkan uang dan menurunkan suku bunga untuk
mengangkat sektor industri teknologi yang mengalami penurunan. Usaha Pemerintah AS dengan mengucurkan dana
talangan pemerintah sebesar USD 700, hanya sementara saja dapat meredam gejolak
pasar. Pasalnya, mayoritas investor di seluruh dunia terpaksa menjual por-
tofolio saham yang dimiliki secara besar-besaran untuk menutupi kebutuhan
likuiditas sehingga mengakibatkan terhempasnya pasar modal dunia.
C.
Dampak
Krisis di Beberapa Kawasan
Dampak krisis ekonomi berbeda di setiap
negara akan berbeda karena perbedaan kebijakan yang di- ambil dan fundamental
ekonomi negara bersangkutan. Tentunya, negara yang paling rentan adalah negara
yang fundamental ekonomi domestiknya tidak kuat. Kuatnya dampak krisis ini pun telah
menyebabkan Bank Dunia dan IMF mengoreksi proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi
berbagai negara dan dunia. Perekonomian AS, misalnya, diprediksi akan melemah
menjadi tumbuh sebesar 1,3 persen pada 2008 dari sebelumnya sebesar 2,7 persen
pada 2007. Demikian pula, negara-negara di kawasan Eropa, diprediksi akan
melemah dari 2,6 persen pada 2007 menjadi 1,4 persen pada 2008. Adapun laju
pertumbuhan Indonesia diperkirakan turun dari 6,5 persen 2007 menjadi sekitar
6,0 persen pada 2008 (IMF, 2008).
D.
Kawasan
Eropa
Salah satu negara yang saat ini terkena
dampak krisis finansial AS cukup parah adalah Islandia. Sebelumnya, Islandia
berada di tingkat ke 4 negara termakmur dengan GNP per kapita sekitar USD60,000
(IMF, 2008). Setelah krisis mata uang
Islandia, Krona, terdepresiasi hingga 30 persen. Sementara itu, bank sentral
Islandia tidak mampu menjamin simpanan masyarakat disebabkan utang luar negeri
perbankan swasta yang besarnya 11 kali lipat dari PDB negara itu. Sebelum
krisis, Bank Sentral Islandia menjalankan kebijakan inflation targeting yaitu
menaikkan suku bunga apabila inflasi di atas target dan menurunkannya di saat
inflasi berada di bawah target.
Kebijakan tersebut umumnya berhasil diterapkan pada negara-negara besar,
tapi tidak tepat untuk negara kecil seperti Islandia. Selama kebijakan tersebut
berlangsung, tingkat inflasi berada di atas rata-rata target inflasi dengan
suku bunga yang mencapai lebih dari 15 persen.
Di negara kecil seperti Islandia, suku
bunga yang tinggi merangsang perusahaan domestik dan rumah tangga untuk
meminjam dalam mata uang asing. Hal tersebut jelas menarik minat spekulan
valuta asing, sehingga menyebabkan
besarnya arus masuk valuta asing yang mengakibatkan tajamnya perbedaan nilai
tukar valuta asing. Para spekulan dan debitor juga mendapatkan keuntungan besar
dari selisih suku bun- ga di Islandia dan luar negeri. Sama halnya dengan
keuntungan yang diraih dari selisih nilai tukar Krona dengan mata uang asing
lainnya. Hal tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi semu dan meningkatkan
laju inflasi. Hasil akhirnya, adalah “balon-balon” ekonomi yang diakibatkan
oleh interaksi suku bunga domestik dan banyaknya arus masuk mata uang asing ke
Islandia. Perbedaan nilai tukar Krona Islandia yang jauh dari fundamental
ekonomi realistis mengakibatkan menurunnya nilai mata uang tersebut. Bank
Sentral Islandia gagal untuk mencegah naiknya nilai untuk mencegah naiknya
nilai tukar dan gagal untuk meningkatkan cadangan devisa mereka.
Keadaan ini diperparah dengan utang luar
negeri bank- bank swasta yang terlalu besar, sehingga Bank Sentral Islandia
tidak mampu lagi memberikan jaminan atas aset-aset bank tersebut maupun
memberikan jaminan likuiditas. Berbeda dengan negara Eropa lainnya yang masih
mampu men- jamin simpanan masyarakat pada level tertentu.
E.
Kawasan
Asia Pasifik
Sistem pasar bebas membuat negara-negara
di kawasan Asia Pasifik pun terkena dampak krisis keuan- gan global tersebut.
Salah satu dampak tersebut bisa muncul melalui financial market. Cadangan
devisa USD 1 triliun tak menjamin Jepang bebas dari krisis finansial global.
Pasar saham di Negeri Matahari Terbit itu juga terkena dampak krisis keuangan
global. Ketika investor panik, akhirnya indeks saham Nikkei turun hingga 11,4
persen, penurunan terbesar sejak 1987.
Sejak awal Oktober 2008, indeks saham di Negeri Sakura sudah terkoreksi
sekitar 20 persen. Hal yang sama juga terjadi di hampir semua pasar modal di
Asia. Selama sepekan, indeks Hang Seng Hong Kong sudah turun 10,78 persen.
Indeks Strait Times Singapura terkoreksi
9,53 persen dan Indeks Kospi Korea turun 8,37 persen. Dampak lain yang
bisa dilihat adalah anjloknya nilai ekspor negara-negara Asia. Contoh paling
dekat adalah perekonomian Singapura dan Hongkong. Singapura dan Hongkong dapat
terpengaruh besar, karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya
raksasa-raksasa keuangan dunia.
Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan
sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa
dikirim
secara besar-besaran ke Amerika Serikat
Laporan kuartal IV-2007, ekonomi Singapura yang biasanya tumbuh sekitar 9
persen, anjlok ke 6 persen. Itu menunjukkan kemerosotan ekonomi Amerika berdampak
terhadap negara-negara Asia lainnya.
Bahkan ekonomi Cina, yang dianggap memiliki kekebalan terhadap resesi
negara lain, juga terkena imbas. Indeks Shanghai anjlok dan mulai
mengantisipasi penurunan ekspornya ke AS dengan mengalihkan ke pasar regional
tentunya termasuk Indonesia. Tentu
dibutuhkan kebijakan yang tepat bagi kita untuk mempertahankan pertumbuhan
ekspor. Di samping itu, bagi negara-negara lain, perlu juga mewaspadai adanya
kemungkinan membanjirnya produk Cina akibat tidak terpenuhinya pasar ekspor
mereka di Amerika serikat.[6]
Masih
belum terlupakan bagaimana Indonesia mengalami situasi dan kondisi yang
menegangkan saat kerusuhan tahun 1997. Ya ketika itu negara ini mengalami
Krisis Ekonomi atau juga dikenal dengan “Krisis Asia”. Namun sebenarnya fakta menyebutkan
krisis ekonomi pada saat itu juga melanda perekonomian global. Imbasnya tentu
saja dihadapkan dengan menurunnya kualitas kesejahteraan rakyat.
Hal ini
merupakan jelasnya keterkaitan hubungan antara sektor moneter dengan sektor
riil. Patut disadari atau tidak segala kebijakan dan berbagai lembaga di
bawahnya, sektor moneter hanyalah fasilitator bagi sektor riil. Lalu kita akan
mencoba melakukan analisis tentang dampak krisis ekonomi di Indonesia.
- Adanya productivity gap (kesenjangan produktifitas) yang erat berhubungan dengan lemahnya alokasi aset ataupun faktor - faktor produksi.
- Fenomena diequilibrium trap (jebakan ketidak seimbangan) berkaitan tentang ketidakseimbanagan struktur antar sektor produksi.
- Fenomena loan addiction ( ketergantungan pada hutang luar negeri imbas dari perilaku para pebisnis yang sering beraktifitas dalam bentuk mata uang asing (foreign currency). [7]
|
Modal
(dolar AS) lari dari Thailand
|
|
Bath
depresiasi
|
|
Modal
(dolar AS) lari dari Indonesia
|
|
Rupiah Depresiasi
|
|
Harga Impor (dolar As)
|
|
Krisis keuangan perusahaan
|
|
Krisis keuangan perbankan
|
|
Output menurun
|
|
Inflasi meningkat
|
|
Permintaan menurun
|
|
PDB menurun
|
|
Kemiskinan meningkat
|
|
Pengangguran meningkat
|
|
Impor berkurang
|
|
Perusahaan
bangkrut
|
|
Perbankan hancur
|
Proses terjadinya Krisis Ekonomi di
Indonesia[8]
2.4. TINDAKAN PENCEGAHAN KRISIS
Saat ini hampir semua negara-negara di
dunia menganut sistem pasar bebas. Aliran dana bebas keluar masuk dari satu
negara ke negara lainnya, dengan regulasi moneter yang bervariasi dari satu
pemerintah ke pemerintah lainnya. Karena semua negara terkait satu sama lainnya
dalam ekonomi global yang terintegrasi, semua pun berisiko untuk terimbas
krisis. Krisis keuangan Amerika terjadi
karena banyak pembeli perumahan tidak dapat membayar kewajiban kepada lembaga
pembiayaan perumahan. Baik, karena kenaikan suku bunga pinjaman Bank Sentral
Amerika (The Fed), ataupun karena tidak memenuhi syarat sebagai pengguna kredit
sektor properti. Padahal, lembaga pembiayaan perumahan tersebut memiliki
kewajiban mencairkan subprime mortgage securities yang diperjualbelikan dengan
pihak ke tiga (lembaga keuangan lain).
Akibat tidak mampu membayar kewajiban,
maka perusahaan pembiayaan perumahan tersebut dinyatakan bangkrut. Untuk
menjaga likuiditas keuangannya, lembaga keuangan yang memiliki investasi
portofolio dalam bentuk subprime mortgage securities, juga melepas portofolio yang
dimiliki. Tentu saja, pelepasan portofolio tersebut akan dipilih dalam bentuk
instrumen investasi yang mudah dicairkan.
Aksi jual portofolio dalam jumlah yang besar itulah yang mengakibatkan kepanikan
pasar modal di berbagai negara. Sebab, transaksi yang dilakukan jelas terekam
dan tercatat dalam pasar modal. Seiring
terjadinya kepanikan dalam pasar modal, pasar uang juga mulai bergejolak.
Gejolak itu lebih disebabkan karena kebutuhan terhadap mata uang tertentu untuk
menjaga likuiditas keuangan. Lembaga-lembaga keuangan yang telah melepas
portofolionya di pasar modal, melakukan aksi beli Terjadinya flukstuasi kurs mata uang di pasar
uang regional, lambat laun mengakibatkan pertambahan laju inflasi di beberapa negara,
karena terjadinya ketidaksetabilan harga komodi-komoditi tertentu. Pada akhirnya
laju inflasi yang tidak terkontrol akan mengakibatkan resesi dalam suatu
negara, akibat runtuhnya sendi-sendi perekonomian negara tersebut.
A.
Strategi
Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi Global
a)
Amerika
Serikat
Beberapa langkah kebijakan yang diambil pemerintah
AS dalam mengatasi dampak krisis keuangan adalah memberikan dana talangan
(bailout) sebesar USD700 miliar. Dana ini ditujukan untuk menyelamatkan
institusi keuangan dan perbankan demi mencegah krisis ekonomi yang
berkepanjangan. Bailout dilakukan dalam bentuk pembelian surat utang subprime
mort- gage yang macet dari investor. Langkah berikutnya yang diambil Bank
Sentral adalah menurunkan suku bunga 0,5 persen menjadi 1,5 persen. Hal
tersebut dilakukan agar dana-dana masyarakat tidak mengendap di bank dan bisa
menggerakkan sektor riil. Selain itu, pemerintah juga berjanji membeli surat
berharga jangka pendek USD900 miliar.
Adapun Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) juga mengumumkan rencana
radikal untuk menutup sejumlah besar utang jangka pendek yang bertujuan
menciptakan terobosan dalam kemacetan kredit yang mengakibatkan krisis
finansial global.
b)
Kawasan
Eropa
o
Islandia
Untuk mengatasi dampak krisis
keuangan global, Pemerintah Islandia menasionalisasi Bank Glitnir yang
bangkrut. Kemudian memecat Dewan Direksi Landsbanki, bank terbesar di negeri
tersebut yang juga mengalami kebangkrutan serta memberikan suntikan dana pada
bank-bank bermasalah. Dalam mestabilkan nilai tukar mata uang Krona, yang
diperdagangkan hingga 202 Krona per Eur 1 (satu Euro), pemerintah mematok kurs
Krona Eslandia setara dengan 131 Krona per Eur 1. Setelah otoritas moneter
Islandia tidak mampu lagi menjamin aset-aset bank, Rusia memberikan suntikan
dana USD 37 miliar ke bank-bank besar Islandia, de- mikian juga Swedia ikut
turun tangan memberikan sun- tikan dana sebesar USD 702 juta. Pemerintah
Islandia optimis dalam jangka panjang akan bisa recovery karena memiliki
potensi cadangan gas alam dan sumber daya manusia yang handal.
o
Inggris
Otoritas moneter Inggris menurunkan suku bunga 0,5 persen menjadi 4,5 persen. Penurunan
tersebut merupakan yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir. Langkah lain yang dilakukan adalah
merekapitalisasi Santander, Barclays,
HBOS, HSBC, Lloyds TSB, Na- tionwide Building Society, Royal Bank of Scotland,
dan Standart Chartered. Pemerintah juga menjamin utang berupa surat
berharga berjangka pendek dengan nilai USD 250 miliar untuk jangka
menengah. Bank of England juga
menyediakan GBR 200 mil- iar (200 miliar poundsterling) untuk pinjaman jangka
pendek perbankan. Pemerintah bertemu dengan bank- bank diantaranya Royal Bank
of Scotland, Lloyds TSB, dan Barclays, yang memerlukan suntikan dana
masing-masing USD 26 miliar.
o
Perancis
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy di depan
sidang kabinet mengatakan, negara siap
menolong permoda- lan bank-bank utama di Perancis. Selain itu pemerintah
Perancis juga meminta Jepang dan
Pemimpin G-8 untuk melakukan pertemuan darurat untuk menenangkan krisis.
o
Rusia
Pemerintah menutup bursa saham sebagai usaha untuk
membendung kepanikan investor akibat penu- runan indeks saham, dan meminjamkan
dana sebesar USD 37 miliar kepada bank-bank besar. Pemerintah Rusia juga akan memberikan
suntikan dana 500 miliar rubel kepada Sberbank, 200 miliar rubel pada VTB (Bank
milik pemerintah). Selain itu Rusia juga
menyerukan pertemuan G-8 dan meminta keterlibatan Cina dalam melakukan
upaya bersama untuk mengatasi krisis.
o
Uni Eropa
Para menteri keuangan 27 negara anggota Uni Eropa
segera melakukan pertemuan untuk membahas jumlah simpanan maksimum yang akan
mendapatkan jaminan pemerintah. Pembahasan
dikhususkan untuk memastikan peningkatan jumlah simpanan yang dija- min
oleh negara masing-masing. Selain itu, Uni Eropa juga menurunkan suku bunga
Bank Sentral Eropa dari 0,5 persen menjadi 3,75 persen.
c)
Kawasan
Asia Pasifik
o
China
Untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi Peo-
ple’s Bank of China (PBOC) sebagai otoritas moneter menurunkan suku bunga dari 7,2 persen menjadi
6,93 persen. Selanjutnya, Pemerintah China berjanji mem- bantu AS dalam
mengatasi krisis.
o
Korea Selatan
Pemerintah Korea Selatan meminta teknokrat ekonomi
menyiapkan rencana-rencana darurat dalam mengantisipasi dampak terburuk krisis
keuangan AS dan mengusulkan koordinasi dengan Menteri Keuan- gan Cina dan
Jepang. Pemerintah juga meminta otori-
tas perbankan menjamin kebutuhan dana perusahaan lokal, termasuk kebutuhan
terhadap dolar AS.
o
Thailand
Federasi Industri Thailand mengajukan langkah-
langkah kepada menteri keuangan untuk melakukan: Penurunan bea masuk impor, Peningkatan
keyakinan konsumen, Penurunan pajak korporasi, Meminta otoritas moneter untuk
mengawasi produk- produk investasi asing yang dapat memperburuk kondisi
keuangan Thailand.
o
Australia
Bank Sentral Australia menurunkan suku bunga menjadi
6 persen. Hal itu dilakukan untuk melonggar- kan likuiditas yang mulai terasa
kurang di sistem per- bankan Australia. Krisis finansial dunia yang berdampak
terhadap bank-bank komersial, memukul mata uang, menekan ekspor, dan mengganggu
produksi saat ini sudah mem- pengaruhi bisnis properti di sejumlah negara. Di
China, penutupan pabrik sudah mulai terjadi.
Merespons krisis keuangan global, umumnya bank sentral di berbagai
negara memangkas suku bunga. Sebagian besar negara menjamin penuh seluruh dana
masyarakatnya.
Sementara itu, di sektor pasar saham,
guna menghindari berbagai transaksi dan penurunan harga saham terjadi karena irasionalitas
pemodal. Kebanyakan otoritas di berbagai negara melakukan pendekatan
komprehensif, sistematis, dan serius untuk memastikan sektor tersebut tidak
jauh terpuruk melalui berbagai in- strumen kebijakan moneter dan yang
sejenisnya.
Lembaga pemeringkat kredit internasional
Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan, sebagian besar negara Asia Pasifik
akan menghadapi tantangan dari efek babak pertama resesi Amerika Serikat (AS).
Tetapi, ka- wasan ini diperkirakan mampu menepis dampak buruk resesi AS. Dalam
laporannya, lembaga itu mengungkapkan implikasi-implikasi dampak resesi bagi
fundamental ekonomi dan kredit sejumlah pemerintahan di kawasan Asia Pasifik.
Menurut S&P, permintaan domestik dan perdagangan antarkawasan diperkirakan
mampu mengatasi dampak langsung merosotnya permintaan impor AS.
Meskipun demikian, negara-negara Asia
Pasifik juga harus bertarung mengantisipasi risiko-risiko lain yang disebabkan
melonjaknya harga-harga sumber energi dan makanan, ketatnya likuiditas global,
serta kemungkinan melemahnya pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa. Sebagian
besar negara di kawasan Asia Pasifik, pada dasarnya dapat mengatasi dampak
krisis keuangan global, karena tingginya prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan
secara keseluruhan, kapasitas kebijakan fiskal dan moneter untuk memitigasi
efek buruk resesi, dan solidnya dukungan dana bagi negara-negara yang kurang
maju.[9]
Belajar dari pengalaman krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada
tahun 1997 -1998, kini pemerintah Indonesia tampak lebih siap, kendati baru
pada tahapan menggelar landasan fundamental yang telah dibenahi pada sektor
perbankan, neraca pembayaran, fiskal dan moneter, serta kondisi secara makro.
Kesiapan Indonesia telah dilakukan dalam tiga tahun terakhir berupa penurunan
suku bunga. Kondisi kondusif telah banyak membawa hasil positif pada permintan
agregat dan struktur penyaluran kredit yang meningkat 25%, dan telah
menggerakkan sektor real, serta meningkatkan penerimaan pajak. Penghasilan
devisa dari ekspor, tidak tergantung ekspor terhadap negara maju seperti;
Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan yang lain,
karena kontribusinya hanya sekitar 7% terhadap PDB. Multiplier effect
dari merosotnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju berpotensi membawa
dampak pada sirkulasi ekonomi kawasan Asia. Turunnya ekspor kawasan Asia ke negara-negara maju, akan
berpengaruh juga pada pertumbuhan ekonomi kawasan Asia. Untuk mengantisipasi
penurunan ekspor,
perlu dijaga eksistensi pasar domestik dalam negeri agar tidak terdistorsi
oleh membanjirnya produk dumping dari negara-negara Asia yang melakukan crash
program , dalam mengalihkan alokasi ekspor dari negara maju ke negara
berkembang. Indonesia harus mampu menyelamatkan captive market dalam negeri
untuk menanggulangi kompetisi global di pasar dalam negeri.[10]
Menyadari dampak yang cukup mencemaskan jika resesi apalagi depresi benar-
benar terjadi, maka Amerika Serikat serius melakukan usaha pencegahan agar
krisis tidak berkepanjangan dengan berbagai kebijakan yaitu;
a. IMF berusaha merilis
decoupling , agar keadaan krisis tidak menjalar ke seluruh dunia, dengan
melakukan mitra kerja dengan negara-negara
lain.
b. The Fed menurunkan
suku bunga dari 4,25% menjadi 3,5% (12
Januari 2008), dan 3% (akhir Januari 2008), kemudian 2,5%, bahkan di kuartal
I tahun 2009 mengarah pada 0% (Warta Ekonomi
April 2009). Kebijakan ini bertujuan mendongkrak harga sekuritas, dan jaminan
rasa aman.
c. awal tahun 2008
pemerintah memberikan stimulus fiskal
sebesar US$150 miliar ( tax rebates ) US$800 setiap rumah, dan pada bulan Februari 2009 direncakan stimulus fiskal sebesar US$787 miliar
(peningkatan daya beli).
d. The Fed dan Pemerintah
Amerika Serikat melakukan positioning yang tepat, dan berusaha mengembalikan kepercayaan pasar
bisnis internasional.
e. Menteri Keuangan Henry
Paulson, menganjurkan agar sepuluh bank
besar di Amerika Serikat mencari suntikan dana segar yang berasal dari luar APBN.
Kebijakan moneter dan fiskal yang dilakukan ini, baru mencapai pada
tataran emergency menyelamatkan
perekonomian.[11]
2.5. ANALISIS KRISIS EKONOMI INDONESIA DAN GLOBAL
Harga minyak dunia yang sempat menembus
US$ 147 per barrel yang menyebabkan harga pangan melejit tinggi dan jatuhnya
bank-bank raksasa di seluruh dunia menunjukkan terjadinya kebangkrutan kredit
global yang pada gilirannya bisa mengarah kepada terjadinya resesi ekonomi.
Agustus 2008 ini terulang kembali ledakan gelombang ekonomi di pasar perusmahan
AS sebagai akibat dari subprime mortgage yang terjadi tahun lalu. Krisis ini
terancam berakhir dengan depresi ekonomi yang mendunia. Depresi ini
diperkirakan akan menghentikan pertumbuhan kesejahteraan dan lapangan kerja
dalam perekonomian Barat selama kira-kira lebih dari satu dekade. Bangkrutnya
Northern Rock di Inggris, Bear Sterns di Amerika serikat (AS), menyebabkan kian
muramnya perekonomian dunia.
Bulan september 2008 adalah bulan dimana
perusahaan-perusahaan terbesar di dunia ambruk. Tanggal 7 September, perusahaan
prekreditan rumah Fannie Mae dan Freddie Mac , yang memberi garansi utang
senilai 5,3 trilyun dolar, yang meliputi separuh lebih dari utang perkreditan
rumah di AS, pun ambruk. Pemerintah AS akhirnya terpaksa menyelematkan dua perusahaan
tersebut dengan menggelontorkan uang dari kas pajak warga negaranya sebesar 200
bilyun dolar. Dua perusahaan tersebut ambruk karena berani memberikan utang
kepada orang-orang yang beresiko tinggi dalam masa-masa kejayaan ekonomi.
Disusul kemudian beria yang menggemparkan dunia finansial adalah bangkrutnya
salah satu Bank Investasi terbesar di pusat keuangan Wall Street di New York
AS. Lehman Brothers, salah satu perusahaan investasi bank AS terbesar
memasukkan permohonan status bangkrut pada tanggal 15 September 2008. Inilah
akhir nasib suatu bank besar dan tertua yang berdiri di negara bagian Alabama
tahun 1844 dan jatuh begitu saja– padahal di tahun 2007 Lehman masih melaporkan
jumlah penjualan sebesar 57 bilyun dolar dan di bulan Maret lalu masih sempat
dinyatakan oleh majalah Business Week sebagai salah satu dari 50 perusahaan
papan atas di tahun 2008. Namun kini, Lehman bernilai tidak lebih dari cuma 2
bilyun dolar saja.
Krisis yang terjadi di Amerika serikat
Serikat berakar pada besarnya gelembung kredit yang dikucurkan ke perumahan.
Harga rumah di Amerika serikat, rata-rata turun hampir 5 persen. Banyak analis
yang memprediksi bahwa harga akan turun lagi sebesar 10 persen, di mana hal
tersebut akan menyebabkan penurunan harga rumah secara kumulatif dalam depresi
ini. Bahkan di negara lain dampaknya bisa lebih buruk.
IMF memperhitungkan bahwa kerugian di
seluruh dunia pada hutang yang berasal dari Amerika serikat (terutama yang
berhubungan dengan mortgages) akan mencapai 1,4 triliun US dolar, perhitungan
ini meningkat dari perkiraan awal yang mencapai 945 miliar US dolar pada bulan
April 2008. Sejauh ini 760 miliar dolar telah dicatat oleh bank, perusahaan
asuransi, hedge fund dan lainnya yang memiliki hutang tersebut.
Secara global, bank sendiri telah
dilaporkan mencapai kerugian sebesar 600 miliar US dolar dalam bentuk kredit
dan telah mengeluarkan 430 miliar US dolar dalam bentuk modal baru. Bank-bank
di Amerika serikat dan di Eropa akan mencucurkan dananya sebesar 10 triliun US
dolar dalam bentuk aset, yang ekuivalen dengan 14,5 persen dari stok kredit
bank di tahun 2009.
Di Amerika serikat secara keseluruhan
pertumbuhan kredit akan melambat di bawah 1 persen, turun dari rata-rata
pertahun setelah masa perang yang mencapai 9 persen. Hal itu sendiri dapat
menurunkan pertumbuhan perekonomian negara-negara barat sebesar 1,5 persen.
Tanpa tindakan maju dari pemerintah yang akan mencucurkan dana sebesar 700
miliar US dolar, perhitungan IMF menunjukan bahwa kredit akan turun sebesar 7,3
persen di Amerika serikat, 6,3 persen di Inggris, dan 4,5 persen di seluruh
eropa.
Sejumlah negara-negara kaya saat ini
mengalami resesi, sebagian karena kredit yang ketat dan sebagian lagi karena
melonjaknya harga minyak pada awal tahun ini. Pendapatan nasional di Inggris,
Perancis, Jerman, dan Jepang turun. Dengan melihat cepatnya para pekerja yang
kehilangan pekerjaannya dan lemahnya daya beli konsumen, perekonomian Amerika
serikat juga mengalami kemunduran.
Sejarah mengajarkan pelajaran penting,
bahwa krisis perbankan yang besar akhirnya diselesaikan dengan menggunakan
sejumlah besar uang publik, dan kemudian tindakan pemerintah yang tegas, baik
itu untuk merekapitalisasi bank atau mengambil alih kredit yang bermasalah,
dapat meminimalkan biaya kepada pembayar pajak dan dampak krisis tersebut ke
perekonomian. Contohnya, Swedia dengan cepat mengambil alih bank yang
bermasalah setelah terjadinya kegagalan properti di awal tahun 1990-an dan
pulih dengan cepat. Secara kontras, Jepang harus menempuh satu dekade untuk
pulih dari krisis keuangan dengan biaya
pembayar pajaknya yang ekuivalen dengan 24 persen GDP nya.
Pemerintah Amerika Serikat telah telah
meletakkan 7 persen GDP nya pada garis batas, sejumlah uang yang sangat banyak
sebesar 16 persen GDP dimana rata-rata krisis perbankan yang sistemik
diselesaikan dengan biaya dari bantuan dana publik. Saat ini bagaimana Amerika
serikat mengusulkan bekerjanya Troubled Asset Relief Programme (TARP) masih
belum jelas. Departemen Keuangan Amerika Serikat berencana membeli sejumlah
besar utang yang bermasalah dengan menggunakan mekanisme lelang, di mana bank
menawarkan untuk menjual pada suatu harga tertentu dan pemerintah membeli dari
harga terendah sampai tertingi. Kompleksitas dari ribuan hipotek yang dijamin
dengan aset akan membuat hal ini menjadi sulit. Bila rekapitalisasi bank secara
langsung masih dibutuhkan, Departemen Keuangan dapat melakukan hal itu juga.
Hal yang utama adalah Amerika serikat harus bersiap-siap melakukan tindakan
tegas.
Untuk sementara waktu, hal tersebut
menawarkan alasan optimisme. Begitu juga dengan kekuatan dari emerging market
terbesar, terutama China. Perekonomian negara ini tidak terpengaruh sebagaimana
negara-negara lain terlihat berjatuhan. Pasar saham mereka terjun dan banyak
mata uang telah turun tajam. Permintaan domestik di negara-negara emerging
market melambat tetapi tidak kolaps. IMF berharap perekonomian negara-negara
emerging market, yang dipimpin oleh China, untuk tetap tumbuh sebesar 6,9
persen pada 2008 dan 6,1 persen pada 2009. Hal itu akan menjadi bantal
perekonomian dunia meski tidak akan menyelamatkannya dari resesi.
Inflasi yang tinggi dan terus menerus
melonjak bersamaan dengan lemahnya keuangan menyebabkan bank sentral mengalami
kebingungan dan menghadapi trade off yang berbahaya. Mereka dapat mengetatkan
kebijakan moneter untuk menghindari dari inflasi yang lebih tinggi dan menjadi
berurat akar (sebagaimana yang dilakukan ECB), atau mereka dapat memotong suku
bunga untuk membantali lemahnya sisi finansial (sebagaimana yang dilakukan The
Fed). Dilema tersebut sekarang berakhir. Hal tersebut terjadi karena turunnya
harga komoditas secara tajam, indeks harga konsumen yang sempat mencapai
puncaknya yang akan menimbulkan resiko inflasi telah mereda. Bila harga minyak
tetap pada level saat ini, indeks harga konsumen Amerika serikat mungkin saja
turun dibawah 1 persen pada pertengahan tahun ini. Kemudian pembuat kebijakan
akan mulai segera mengkhawatirkan adanya deflasi.
Masalahnya terletak pada besarnya
difisit neraca berjalan Amerika serikat yang bergantung pada pembiayaan luar
negeri. Amerika Serikat memiliki keuntungan bahwa mata uangnya yakni dolar
adalah mata uang cadangan devisa tiap negara, dan sebagaimana kekacauan pasar
finansial telah meluas, dolar akan menguat. Tetapi krisis kali ini juga menguji
banyak fondasi dimana orang asing loyal terhadap dasar dolar, seperti jangkauan
pemerintah yang terbatas dan pasar modal yang stabil. Bila orang asing
melarikan dolar, maka amerika serikat akan mengalami dua mimpi buruk yang
menghantui negara-negara emerging market dalam kehancuran pasar keuangan:
secara simultan terjadi krisis mata uang dan perbankan. Utang amerika serikat,
tidak seperti utang-utang negara emerging market, utang Amerika Serikat
didenominasikan dalam bentuk mata uangnya sendiri, yaitu dolar. Tetapi
kolapsnya dolar akan tetap menjadi sebuah bencana.
Apa yang akan menjadi efek jangka
panjang dari kekacauan pasar finansial ini terhadap ekonomi dunia? Memprediksi
konsekuensi dari krisis yang belum selesai adalah suatu yang bahaya. Tetapi
sudah jelas bahwa, bahkan dalam ketiadaan bencana, arah globalisasi akan
berubah. Dua dekade yang lalu pertumbuhan integrasi perekonomian dunia telah
bersama-sama dengan semakin berkembangnya pengetahuan dari anglo-saxon kapitalisme
pasar bebas, dengan amerika serikat sebagai cheerleadernya. Pembebasan aliran
perdagangan dan modal juga deregulasi industri domestik dan keuangan telah
menyebabkan pesatnya perkembangan globalisasi. Integrasi global, dalam jumlah
besar, telah menyebabkan kemenangan pasar atas pemerintah. Proses ini sekarang
berbalik menjadi 3 jalan yang berbeda.
Pertama, keuangan negara-negara barat
akan diregulasi. Pada tingkat minimalnya, wilayah yang paling bebas di keuangan
modern, seperti 55 triliun US dolar untuk derivasi kredit akan diatur.
Peraturan akan modal akan diperiksa secara seksama untuk menurunkan
solvabilitas dan meningkatkan daya rentang sistem. Overlaping dari pembuat
peraturan akan diatur kembali. Seberapa besar kontrol yang akan dikenakan akan
kurang bergantung kepada ideologi daripada parahnya penurunan ekonomi.
Yang kedua, keseimbangan antara negara
dan pasar berubah dalam wilayah selain keuangan. Untuk kebanyakan negara, shock
yang sangat penting dalam beberapa tahun yang lalu adalah naiknya harga
komoditi secara besar-besaran, dimana politisi juga disalahkan karena adanya
spekulasi keuangan. Naiknya harga makanan di akhir 2007 dan awal 2008 telah
menyebabkan adanya pemberontakan di 30 negara. Untuk meresponsnya, pemerintah
di negara-negara emerging market memperluas jangkauannya, menaikan subsidi,
memperbaiki harga, melarang expor dari komoditas penting, bahkan pada kasus
india, pemerintahnya melarang perdagangan future.
Ketiga, Amerika serikat kehilangan
pengaruh ekonomi dan wewenang intelektual. Sebagaimana negara-negera yang
perekonomiannya sedang tumbuh pesat membentuk arah dari perdagangan global,
sehingga mereka akan meningkatkan bentuk keuangan masa depan. Seperti China
yang merupakan negara kaya kapital dan mudah dalam memberi kredit. Deleveraging
dalam perekonomian barat akan sedikit tidak terlalu terasa bila savings di
negara-negara asia yang kaya dan negara pengekspor minyak menyuntikan dananya.
Momentum krisis keuangan AS ini merupakan kesempatan untuk mengubah
persepsi pasar modal Indonesia sebagai pasar modal dengan karakter high risk
high return menjadi karakter pasar modal yang dapat memberikan harapan tingkat
keuntungan (expected return) yang optimal dengan tingkat risiko investasi yang
minimum sehingga bisa menarik modal masuk.
Sejumlah pakar ekonom mengatakan bahwa di Indonesia krisis hanya terjadi
di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak akan mudah
bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem
keuangan Indonesia amat kecil karena bursa di Indonesia hanya membawa pengaruh
20% dari ekonomi Indonesia. Selain itu krisis pasar modal seperti ini tidak
akan kembali mengulang seperti krisis pada tahun 1997 karena depresisasi rupiah
padah tahun itu adalah 100% dengan inflasi 20% NPL perbankan 60% dan SBI 50%.
Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini hanya mendepresiasi rupiah sebesar 5%,
inflasi 12,14% NPL perbankan 1% dan SBI 9,5%.
Namun Gejolak ini akan membawa kepada krisis atau tidak, kita harus selalu
percaya bahwa krisis adalah peluang untuk memasuki era baru yang lebih baik.
Semoga dunia bisa keluar dari krisis ini dengan situasi yang lebih baik. Dan
semoga ekonom pemerintah Indonesia sudah pasang kuda-kuda melindungi ekonomi
indonesia dari krisis ini. Kalau tidak, siap-siap tabungan kita semua di bank,
hasil keringat kita bertahun-tahun, hilang dan menguap dalam krisis. Kita
menjadi korban sistem ekonomi yang mengandalkan financial engineering bukan
sistem yang berbasis sektor riil dan entrepreneurial.[12]
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Semenjak kenaikan harga minyak dunia yang menembus kisaran US $110 per
barel pada awal tahun 2008 yang menggoncangkan stabilitas ekonomi makro di
banyak negara, dengan syntom kenaikan inflasi dan pengeluaran negara untuk
kepentingan subsidi. Sementara Indonesia yang kondisi ekonomi makronya relatif
baik dalam tiga tahun terakhir ini harus menerima kenyataan pahit dari dorongan
perubahan eksternal dengan melakukan penyesuaian anggaran. Konsumsi BBM di
dalam negeri yang terus meningkat hingga mencapai 1,3 juta barel per hari,
merupakan sebuah realita yang harus diderita Indonesia. Bahkan pergeseran angka subsidi BBM dan listrik yang
semakin membebani APBN, nyaris menghabiskan seperempat alokasi anggaran APBN.
2. Krisis global adalah peristiwa
dimana seluruh sektor ekonomi di pasar dunia mengalami keruntuhan (keadaan gawat) dan mempengaruhi sektor
lainnya di seluruh dunia. Krisis global ini berawal pada negara adidaya Amerika
Serikat (AS) dimana dimulai dari kredit macet perumahan di Amerika Serikat yang
merupakan sentrum bagi perekonomian dunia. Akibat dari krisis global yang
terjadi di AS, ini member dampak besar pada dunia.
3.
Sejumlah pakar ekonom mengatakan bahwa
di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar
modal dinilai tidak akan mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi
pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil karena bursa di
Indonesia hanya membawa pengaruh 20% dari ekonomi Indonesia. Selain itu krisis
pasar modal seperti ini tidak akan kembali mengulang seperti krisis pada tahun
1997 karena depresisasi rupiah padah tahun itu adalah 100% dengan inflasi 20%
NPL perbankan 60% dan SBI 50%. Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini hanya
mendepresiasi rupiah sebesar 5%, inflasi 12,14% NPL perbankan 1% dan SBI 9,5%. Namun
Gejolak ini akan membawa kepada krisis atau tidak, kita harus selalu percaya
bahwa krisis adalah peluang untuk memasuki era baru yang lebih baik. Semoga
dunia bisa keluar dari krisis ini dengan situasi yang lebih baik. Dan semoga
ekonom pemerintah Indonesia sudah pasang kuda-kuda melindungi ekonomi indonesia
dari krisis ini. Kalau tidak, siap-siap tabungan kita semua di bank, hasil
keringat kita bertahun-tahun, hilang dan menguap dalam krisis. Kita menjadi
korban sistem ekonomi yang mengandalkan financial engineering bukan sistem yang
berbasis sektor riil dan entrepreneurial.
DAFTAR PUSTAKA
Arisyi F. Raz, et.al. Krisis Keuangan
global dan pertumbuhan ekonomi: Analisa dari perekonomian Asia Timur, Buletin
Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2012.
Basri, Faisal. PEREKONOMIAN INDONESIA
tantangan dan harapan bagi kebangkitan Indonesia, penerbit Erlangga, Jakarta,
2002
Farida, Ais siti, S.E., M. SI. Sistem
ekonomi Indonesia, penerbit pustaka setia, Bandung, 2011
Departemen komunikasi dan informasi.
Memahami krisis keuangan global, Jakarta, 2008.
http://repository.binus.ac.id/2009-1/content/F0882/F088267957.pdf.
Dampak Krisis Keuangan Global Bagi
Indonesia, Didik Kurniawan Hadi Chief Economist Assistant PT Recapital Advisor, akses 13 Juni 2016
http://obrolanekonomi.blogspot.co.id/2013/11/analisis-faktor-penyebab-krisis-ekonomi.html. akses tanggal 13 juni 2016
Sihono, Teguh, krisis finansial amerika
serikat dan perekonomian indonesia, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 5 Nomor 2, Desember
2008.
Tambunan,
Dr. Tulus T.H. Perekonomian Indonesia,
Ghalia Indonesia, Bogor, 2009.
-------------------------------.
Perekonomian Indonesia era orde lama hingga Jokowi, Ghalia Indonesia, Bogor,
2015.
[1] Arisyi
F. Raz, et.al. Krisis Keuangan global dan pertumbuhan ekonomi: Analisa dari
perekonomian Asia Timur, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2012,
h.1. 20
[2]
Dr. Tulus T.H. Tambunan,
Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009, h. 71-72
[3]
Dr. Tulus T.H. Tambunan, Op
Cit, h. 77
[4] Teguh
Sihono, krisis finansial amerika serikat
dan perekonomian indonesia, Jurnal Ekonomi
& Pendidikan, Volume 5 Nomor 2, Desember 2008
[6]
Departemen komunikasi dan
informasi. Memahami krisis keuangan global, Jakarta, 2008, h. 11.8 – 21.88
[7]
http://obrolanekonomi.blogspot.co.id/2013/11/analisis-faktor-penyebab-krisis-ekonomi.html. akses tanggal 13 juni 2016
[9]
Departemen komunikasi dan
informasi, Op Cit, h. 24.88-29.88
[10]
Ibid. h. 16. 21-22
[11], Teguh Sihono, Op. Cit. h. 9.
22.
[12]
http://repository.binus.ac.id/2009-1/content/F0882/F088267957.pdf.
Dampak Krisis Keuangan Global Bagi
Indonesia, Didik Kurniawan Hadi Chief Economist Assistant PT Recapital Advisor, akses 13 Juni 2016
Kabar Baik, Setiap Satu. Nama saya Aris Setymin Dari Indonesia tapi aku tinggal di Prahova Rumania, aku cepat-cepat ingin menggunakan media ini untuk berbagi kesaksian tentang bagaimana Tuhan mengarahkan saya untuk pemberi pinjaman kredit Legit dan nyata yang telah mengubah hidup saya dari rumput untuk rahmat, saya pernah menjadi miskin wanita tapi dia telah berubah saya untuk orang kaya sekarang, karena saya sekarang dapat membanggakan dari hidup sehat dan kaya tanpa stres atau kesulitan keuangan.
ReplyDeleteSetelah berbulan-bulan mencoba untuk mendapatkan pinjaman di internet, saya ditipu oleh perusahaan pinjaman lain untuk membayar jumlah total Rp98,700,500, saya menjadi begitu putus asa dalam mendapatkan pinjaman dari pemberi pinjaman online yang sah yang tidak akan meningkatkan rasa sakit saya, jadi aku memutuskan untuk menghubungi seorang wanita yang baru saja pinjaman diterima secara online, kita membahas tentang masalah ini dan kesimpulan kami dia bercerita tentang seorang wanita bernama CYNTHIA JOHNSON yang merupakan CEO dari Cynthia Johnson Pinjaman Perusahaan.
Aku diterapkan untuk jumlah pinjaman ($520,000.00USD) dengan tingkat bunga rendah dari 2%, sehingga pinjaman disetujui dengan mudah tanpa stres dan semua persiapan dilakukan pada transfer kredit, karena fakta bahwa tidak memerlukan agunan untuk transfer pinjaman, saya hanya diberitahu untuk mendapatkan sertifikat lisensi kesepakatan dari mereka untuk mentransfer kredit saya dan dalam waktu kurang dari dua jam dan 20 menit pinjaman disetorkan ke rekening bank saya.
Jadi saya ingin saran siapa saja yang membutuhkan pinjaman untuk cepat menghubungi dia melalui: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dia tidak tahu bahwa saya melakukan ini dan saya berdoa agar Tuhan memberkati dia dan keluarganya untuk hal-hal baik yang telah dilakukan di hidupku. Anda juga dapat menghubungi saya di arissetymin@gmail.com untuk info lebih lanjut. dan di sini adalah email dari teman saya: ladymia383@gmail.com yang memperkenalkan saya kepada Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia.
thank you for your information.
DeleteHalo,
ReplyDeleteSaya Mrs. Maryjane Brown, pemilik perusahaan pinjaman swasta. Apakah Anda mencari pinjaman untuk memulai bisnis? Apakah
kamu turun
secara finansial dan mencari bantuan? Mencari pinjaman untuk berdiri teguh secara finansial, melunasi utang, tagihan,
pajak, dan
pungutan. Sudahkah Anda mengajukan pinjaman di bank, masyarakat kooperatif, perusahaan dan tidak mendapat tanggapan
positif. Ini adalah era baru
dan kami cenderung membanggakan kehidupan finansial Anda. Kami memberikan pinjaman kepada individu internasional dan lokal
yang cenderung membutuhkan
pinjaman dan dapat membayar kembali dengan tarif murah lebih murah 2%. Perusahaan saya telah terdaftar dan disetujui oleh
Kerajaan Inggris untuk membantu
dan mengendalikan lembaga keuangan di seluruh dunia. Saya memberikan pinjaman melalui transfer bank atau rekening bank dan
tidak membutuhkan banyak
dokumen.
Anda dapat menghubungi kami melalui Email: (maryjanefinancialservices@gmail.com). Datanglah kepada kami dan kami akan lebih
baik hidup Anda.
Halo,
ReplyDeleteSaya Mrs. Maryjane Brown, pemilik perusahaan pinjaman swasta. Apakah Anda mencari pinjaman untuk memulai bisnis? Apakah
kamu turun
secara finansial dan mencari bantuan? Mencari pinjaman untuk berdiri teguh secara finansial, melunasi utang, tagihan,
pajak, dan
pungutan. Sudahkah Anda mengajukan pinjaman di bank, masyarakat kooperatif, perusahaan dan tidak mendapat tanggapan
positif. Ini adalah era baru
dan kami cenderung membanggakan kehidupan finansial Anda. Kami memberikan pinjaman kepada individu internasional dan lokal
yang cenderung membutuhkan
pinjaman dan dapat membayar kembali dengan tarif murah lebih murah 2%. Perusahaan saya telah terdaftar dan disetujui oleh
Kerajaan Inggris untuk membantu
dan mengendalikan lembaga keuangan di seluruh dunia. Saya memberikan pinjaman melalui transfer bank atau rekening bank dan
tidak membutuhkan banyak
dokumen.
Anda dapat menghubungi kami melalui Email: (maryjanefinancialservices@gmail.com). Datanglah kepada kami dan kami akan lebih
baik hidup Anda.
Apakah Anda memerlukan keuangan cepat dengan A.P.R yang relatif rendah? Kami menawarkan keuangan bisnis, keuangan pribadi, keuangan rumah, pembiayaan mobil, keuangan pelajar, keuangan konsolidasi utang, e.t.c. tidak peduli skor kredit Anda. Kami dijamin memberikan layanan keuangan kepada banyak klien kami di seluruh dunia. Dengan paket pinjaman fleksibel kami, keuangan dapat diproses dan ditransfer ke peminjam dalam waktu sesingkat mungkin, hubungi spesialis kami untuk saran dan perencanaan keuangan.
ReplyDeleteRegards:
Company: RAMADHAN ISLAMIYAT LOANS
email: (ramadhanislamiyatloans@gmail.com)
PIN BB: (e32ddf1e)
WhatsApp:( 447454810709)
Blogger: (ramadhanislamiyatloanz.blogspot.com)
Mother: Anita Ervina (CEO)