Tugas Individu

KRISIS EKONOMI INDONESIA DAN GLOBAL







Diajukan untuk melengkapi Tugas Ekonomi Internasional

Oleh:
ANNISA INAYATUL AINI
NPM : 1351010057

Program Studi           : Ekonomi Islam

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2016 M


 
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas semua karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Ekonomi Internasional yang berjudul Krisis Ekonomi Indonesia dan Global”.

            Tujuan penulisan makalah ini antara lain dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Internasional Jurusan Ekonomi Islam kelas F, selain itu dalam rangka menambah wawasan perihal Ekonomi Internasional serta untuk dapat membantu dalam penerapan di kehidupan sehari-hari.

Kami mengucapkan terimakasih terhadap semua pihak atas bantuan baik berupa bimbingan maupun masukan materi yang bermanfaat. Saya menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi kelanjutan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.
Terima kasih.





Bandar Lampung, 09 Juni 2016


                                                                                                            Penulis









 
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................ iii
BAB I: PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang.................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................................... 3
1.3.Tujuan penulisan.................................................................................................. 3
BAB II : PEMBAHASAN.................................................................................................. 4
2.1. KRISIS EKONOMI INDONESIA................................................................... 4
2.2. KRISIS EKONOMI GLOBAL......................................................................... 6
2.3. FAKTOR-FAKTOR KRISIS EKONOMI........................................................ 7
2.4. TINDAKAN PENCEGAHAN KRISIS........................................................... 13
2.5. ANALISIS KRISIS EKONOMI INDONESIA DAN GLOBAL................... 19
BAB III : PENUTUP.......................................................................................................... 25
3.1. Kesimpulan......................................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 27


BAB I
PEDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan semakin terintegrasinya perekonomian di tengah eraglobalisasi, krisis keuangan yang terjadi pada suatu negara dapat dengan mudah menyebar ke negara-negara lain dan menjadi bencana keuangan global dalam kurun waktu yang singkat. Pada kejadian semacam ini, fundamental ekonomi yang kuat sangat penting untuk mempertahankan suatu negara dari efek krisis yang “menular”. Sebagai bukti, karena fundamental ekonomi yang rapuh dan kurangnya kredibilitas pemerintah, perekonomian Asia Timur dapat diserang dengan mudah  oleh krisis pada tahun 1997 begitu kepercayaan pasarmemburuk. Namun demikian, Asia Timurini telah belajar banyak dari kejadian pada tahun 1997 tersebut sehingga dapat membuktikan ketahanannya dalam menghadapi krisis keuangan global yang melanda pada tahun 2008 dengan meningkatkan fundamental ekonominya serta kredibilitas para pembuat kebijakan. Makalah ini dimulai dengan teori tentang pertumbuhan ekonomi dan krisis keuangan. Selanjutnya, secara empiris menguji sejauh mana krisis keuangan pada tahun 1997 dan 2008 mempengaruhi perekonomian Asia Timur dengan menggunakan data panel ekonometri. Bukti menunjukkan bahwa, meskipun kedua krisis telah memberikan dampak buruk pada perekonomian Asia Timur, gelombang krisis 2008 relatif tidak lebih parah daripada krisis tahun 1997.
Sejak era globalisasi, krisis keuangan menjadi lebih sering terjadi daripada sebelumnya. Salah satu alasan utamanya adalah kemajuan dalam teknologi informasi, yang, sampai batas tertentu, memperbesar gelombang krisis dan mempercepat penyebarannya ke daerah atau negara lain. Alasan lain adalah perkembangan pesat dari sektor keuangan. Salah satu contoh adalah munculnya International Financial Integration (IFI). Dalam hal ini, Edison et al. (2002) menjelaskan bahwa IFI mengacu pada “sejauh mana suatu perekonomian tidak membatasi transaksi lintas batas” (halaman 1). Oleh karena itu, karena sistem keuangan yang terintegrasi, timbulnya gangguan keuangan domestik di satu negara dapat mengakibatkan efek domino dengan cara mengacaukan ekonomi terintegrasi lainnya yang mengarah kepada kekacauan keuangan global.
Dalam dua dekade terakhir, setidaknya dua krisis keuangan besar terjadi, yaitu Krisis Keuangan Asia Timur 1997 dan Krisis Keuangan Global 2008. Jika krisis pada tahun 1997 disebabkan oleh kurangnya transparansi dan kredibilitas pemerintah yang menyebabkan distorsi struktural dan kebijakan (lihat contoh Corsetti et al., 1999), gejolak ekonomi tahun 2008 terutama dipicu oleh inovasi yang cepat dalam produk keuangan seperti praktek sekuritisasi dan “ credit default swap” . Hal ini diperburuk oleh spekulasi properti dan peringkat kredit yang tidak akurat. Pada kedua kasus, perkembangan krisis menyebar ke benua-benualain dan, dalam waktu singkat, menjadi krisis global karena efek menular di tengah sistem keuangan yang terintegrasi secara global dan persebaran informasi yang cepat.
Meskipun sumber krisis dapat bervariasi, konsekuensi dari krisis keuangan selalu dikaitkan dengan indikator makroekonomi, khususnya pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh, selama krisis Asia Timur, pertumbuhan ekonomi Asia Timur jatuh dari wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia menjadi wilayah yang beberapa negara anggotanya mencatat pertumbuhan pendapatan yang negatif pada tahun 1998 seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Filipina dan Thailand. Selanjutnya, Indonesia, Thailand dan Korea Selatan harus meminta program pinjaman dana talangan ke Dana Moneter Internasional (IMF). Di sisi lain, selama krisis 2008, meskipun sumber krisis disebabkan oleh runtuhnya lembaga-lembaga keuangan internasional di barat, terutama di Amerika Serikat dan Inggris, beberapa negara Asia Timur seperti Malaysia, Singapura dan Thailand juga diseret ke krisis dengan mengalami pembebanan keuangan besar. Namun demikian, statistik menunjukkan bahwa dampak krisis pada tahun 2008 di negara-negara Asia Timur tidak seburuk pada tahun 1997. Selain itu, negara-negara ini berhasil pulih dengan cepat. Dalam hal ini, banyak yang berpendapat bahwa negara Asia Timur telah belajar banyak pada tahun 1997 dan berhasil menahan krisis pada tahun 2008 melalui fundamental ekonomi yang telah diperkuat.[1]




2.1. Rumusan Masalah
1. Apakah faktor-faktor yang menyebabkan krisis ekonomi Indonesia dan global?
2. Bagaimana  tindakan pencegahan krisis ekonomi Indonesia dan global?
3. Bagaimana analisis krisis ekonomi Indonesia dan global?

2.3. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui faktor-faktoryang menyebabkan krisis ekonomi Indonesi dan global, tindakan pencegahan krisis ekonomi Indonesi dan global serta menganalisis krisis ekonomi yang terjadi Indonesia dan global.
2. Untuk menambah wawasan atau ilmu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai Ekonomi Internasional khususnya mengenai Krisis Ekonomi Indonesia dan Global.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1. KRISIS EKONOMI INDONESIA
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia menjelang akhir tahun 1997 dan mencapai klimaksnya pada tahun 1998 sangat memukul perekonomian Indonesia. Pada tahun 1998 PDB merosot tajam hingga 13% yang membuat pendapatan per kapita juga menurun drastic. Merosotnya PDB hingga 13% bukan suatu hal yang kecil, mengigat bahwa sepanjang sejarah Indonesia sejak 1945 hingga 1996 ekonomi Indonesia belum pernah mengalami pertumbuhan PDB hingga 13%. Dilihat hingga sekarang, pertumbuhan ekonomi tertinggi yang pernah dialami  Indonesia adalah sekitar 7% hingga 8% rata-rata per tahun pada era orde baru. Tidak heran jika krisis tersebut membuat “keajaiban Indonesia” selama pemerintahan soeharto menjadi tidak ada artinya lagi. Sektor keunagan/perbankan yang pada masa orde baru berkembang sangat (bahkan terlalu) pesat, terutama sejak deregulasi pertama di sektor tersebut pada awal decade 80-an. Hancur sama sekali, terutama karena kredit macet antar bank. Dari sisi suplai, sektor industri manufaktur dan sektor konstruksi  (bangunan), yang pada era orde baru bukan saja berkembang sanat pesat, tetapi juga sebagai motor utama pertummbuhan ekonomi juga mengalami penurunan produksi yang signifikan. Praktis hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negative.
Dalam nilai nominal, sektor-sektor yang mengalami pertumbuhan positif selama 1998 hanya pertanian dengan 1,31%, listrik, gas dan air bersih 3.11%, dan pengangkutan dan komunikasi 16,23%. Pertumbuhan positif sektor pertania terutama karena dukungan subsector perkebunan, kehutanan, dan perikanan yang produksinya terus meningkat. Selain itu, sumber lain yang membuat sektor ini tetap bisa meningkatkan output-nya bersumber dari pertumbuhan ekspornya. Jatuhya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat harga komoditas-komoditas pertanian dalam dolar AS menjadi lebih murah, yang membuat daya saing harga dari sektor pertanian meningkat.[2]
Perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sangat tergantung pada impor untuk memproduksi juga tidak melakukan hedging. Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dengan sendirinya membuat biaya impor yang berarti juga biaya produksi meningkat tajam. Banyak prusahaan yang tidak sanggup menanggung ekstra beban biaya tersebut terpaksa mengurangi impor yang berarti mengurangi volume produksinya. Bahkan banyak juga perusahaan yang terpaksa tutup, yang selanjutnya mengakibatkan jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan meningkat. Sedangkan perusahaan-perusahaan yang mau tetap impor juga mengalami kesulitan karena letter of credot (L/C) yang dikeluarkan oleh bank-bank nasional ditolak oleh bank-bank di luar negeri, setelah mereka mengetahuibahwa bank-bank di Indonesia sedang mengalami kebangkrutan.[3]
Semenjak kenaikan harga minyak dunia yang menembus kisaran US $110 per barel pada awal tahun 2008 yang menggoncangkan stabilitas ekonomi makro di banyak negara, dengan syntom kenaikan inflasi dan pengeluaran negara untuk kepentingan subsidi. Sementara Indonesia yang kondisi ekonomi makronya relatif baik dalam tiga tahun terakhir ini harus menerima kenyataan pahit dari dorongan perubahan eksternal dengan melakukan penyesuaian anggaran. Konsumsi BBM di dalam negeri yang terus meningkat hingga mencapai 1,3 juta barel per hari, merupakan sebuah realita yang harus diderita Indonesia. Bahkan  pergeseran angka subsidi BBM dan listrik yang semakin membebani APBN, nyaris menghabiskan seperempat alokasi anggaran APBN. Kenaikan BBM dan tariff Listrik serta ancaman inflasi dapat berakibat fatal bagi perekonomian rakyat, rakyat miskin akan terpukul dan bertambah jumlahnya. 
Mensikapi hal ini secara politis pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, stabilisasi makro dan sikap perhatian kepada rakyat, (mempertahankan subsidi baik BBM, Listrik, BLT, dan lain sebagainya), dan  kebijaksanaan fiskal/pemotongan anggaran untuk jangka pendek. Bagi pemerintah tidak banyak opsi untuk menghadapi persoalan eksternal yang cukup pelik dari gejolak ekonomi dunia yang belakangan ini semakin destruktif. Opsi kebijakan yang diambil sebagai apresiasi  meminimalisasi dampak negatif yang lebih luas agar tidak merusak tatanan ekonomi makro yang  telah dibangun. Selama rezim Orde Baru berkuasa, pembagian manfaat dari hasil pembangunan antara bangsa Indonesia dengan bangsa asing tidak pernah dihitung. Sebagai contoh:  minyak yang begitu penting dan strategis 85% dieksploitasi oleh asing dan Pertamina hanya menerima 15% saja (Kwik Kian Gie 18 Februari 2008). Kontrak bagi hasil yang formulanya 85% untuk Indonesia dan 15% untuk kontraktor asing, kenyataannya sampai saat ini pembagiannya 60% untuk Indonesia dan 40% untuk perusahaan minyak asing, karena cost recovery yang memberatkan Indonesia bebannya dialihkan kepada kontraktor.[4]

2.2. KRISIS EKONOMI GLOBAL
Krisis global adalah peristiwa dimana seluruh sektor ekonomi di pasar dunia mengalami keruntuhan  (keadaan gawat) dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Krisis global ini berawal pada negara adidaya Amerika Serikat (AS) dimana dimulai dari kredit macet perumahan di Amerika Serikat yang merupakan sentrum bagi perekonomian dunia. Akibat dari krisis global yang terjadi di AS, ini member dampak besar pada dunia.
Ini dapat kita lihat bahwa negara adidaya yang memegang kendali ekonomi pasar dunia yang mengalami keruntuhan besar dari sektor ekonominya. Bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Negeri Paman Sam satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Bangkrutnya Lehman Brothers langsung mengguncang bursa saham di seluruh dunia. Bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan drastis 7 sd 10 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di AS sendiri, Para investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar. 
Krisis ekonomi mempunyai empat unsur yang jelas. Unsur yang pertama adalah kejadian yang penuh resiko. Ini adalah kejadian yang mengawali suatu reaksi yang berantai dari kejadian-kejadian yang mencapai puncaknya dalam suatu krisis. Unsur yang kedua adalah keadaan rentan. Tidak semua peristiwa ini membawa seseorang kepada suatu krisis. Kalau krisis tidak rentan, pasti krisis itu tidak akan mungkin terjadi. Unsur yang ketiga adalah faktor-faktor yang menimbulkan krisis tersebut. Artinya faktor terakhir yang perlu di tambahkan adalah krisis yang aktif. Sedangkan arti istilah global dianggap berkaitan erat dengan “sedunia, secara masal, secara umum”. Jadi krisis global adalah suatu keadaan gawat, krisis yang terjadi di seluruh dunia atau mendapat dampak di seluruh dunia (Abdullah, 2008).
Menurut (Anonimous, 2008) adapun terjadinya krisis global di akibatkan adanya beberapa faktor antara lain:
1. Tingginya harga kebutuhan
2. Penyaluran kredit secara berlebihan sehingga tidak memperhatikan kemampuan
            membayar dari konsumen.
3. Krisis kepercayaan dari para pelaku pasar, warga Negara, bahkan antar Negara
4. Spekulasi berlebihan dari para spekulan
5. Bidang usaha dari ekonomi makro tidak berjalan seiring dengan ekonomi mikro
Ini menyebabkan banyak perusahaan-perusahaan atau industry yang gulung tikar, yang disebabkan tidak mampunya mengatasi krisis ekonomi global. Dampaknya bagi pekerja banyaknya pekerja yang di PHK yang akan menimbulkan banyak pengaguran dan meningkatnya angka kemiskinan.[5]

2.3. FAKTOR-FAKTOR KRISIS EKONOMI
Krisis keuangan global telah terjadi. Berbagai pihak mengaitkannya dengan kondisi perekonomian negara Amerika Serikat. Ketika kondisi perekonomian sebuah negara adidaya berubah dan mengalami goncangan, dapat dipastikan akan membawa konsekuensi yang luas pada perekonomian dunia.   Media massa di berbagai belahan dunia dengan gencar memberitakan krisis keuangan Amerika Serikat yang telah mempengaruhi tatanan sistem keuangan berbagai negara di benua Amerika, Eropa, Asia Pasifik, Asia Selatan, bahkan Timur Tengah.
A.    Bermula dari Subprime Mortgage
Sejak tahun 1925, di Amerika Serikat sudah ada Undang-undang Mortgage. Peraturan  yang berkaitan den- gan sektor properti, termasuk kredit pemilikan rumah. Semua warga AS --asalkan memenuhi syarat tertentu-- bisa mendapatkan kemudahan kredit kepemilikan prop- erti, seperti KPR. Kemudahan pemberian kredit terjadi ketika harga properti di AS sedang naik.  Kegairahan pasar property membuat spekulasi di sektor ini meningkat. Para pe- nyedia kredit properti memberikan suku bunga tetap se- lama tiga tahun. Hal itu  membuat banyak orang mem- beli rumah dan berharap bisa menjual dalam tiga tahun sebelum suku bunga disesuaikan. Permasalahannya, banyak lembaga keuangan pemberi kredit properti di Amerika Serikat menyalurkan kredit kepada penduduk yang sebenarnya tidak layak mendapatkan pembiayaan.  Mereka adalah orang dengan latar belakang non-income non-job non-activity (NINJA) yang tidak mempunyai kekuatan ekonomi untuk menyelesaikan tanggungan kredit yang mereka pinjam. Situasi tersebut memicu terjadinya kredit macet di sektor properti (subprime mortgage).
Selanjutnya, kredit macet di sektor properti mengakibatkan efek domino ambruknya lembaga-lembaga keuangan besar di Amerika Serikat. Pasalnya, lembaga pembiayaan sektor properti pada umumnya meminjam dana jangka pendek dari pihak lain, termasuk lembaga keuangan.  Jaminan yang diberikan perusahaan pembiayaan kredit properti adalah surat utang, mirip subprime mortgage securities, yang dijual kepada lembaga-lembaga investasi dan investor di berbagai negara. Padahal, surat utang itu ditopang oleh jaminan debitor yang kemampuan membayar KPR-nya rendah. 
Dengan banyaknya tunggakan kredit properti, perusahaan pembiayaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada lembaga-lembaga keuangan, baik bank investasi maupun asset management. Hal itu mempengaruhi likuiditas pasar modal maupun sistem perbankan.  Setelah itu, terjadi pengeringan likuiditas lembaga- lembaga keuangan akibat tidak memiliki dana aktiva untuk membayar kewajiban yang ada. Ketidakmampuan bayar kewajiban tersebut membuat lembaga keuangan lain yang memberikan pinjaman juga terancam bangkrut.
Kondisi yang dihadapi lembaga-lembaga keuangan besar di Amerika Serikat  juga mempengaruhi likuiditas lembaga keuangan lain, yang berasal dari Amerika Serikat maupun di luar Amerika Serikat. Terutama  lembaga yang menginvestasikan uangnya melalui instrumen lembaga keuangan besar di Amerika Serikat. Di sinilah krisis keuangan global bermula. Untuk menghindari meluasnya krisis subprime mortgage dan membawa dampak buruk terhadap perekonomian Amerika Serikat, pemerintah Amerika Serikat dan Bank Sentral Amerika (The Fed) mengeluarkan kebijakan untuk membantu beberapa lembaga-lembaga keuangan besar tersebut.  Upaya tersebut sekaligus dikemas dalam kebijakan moneter untuk menekan angka inflasi serta menstabilkan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat. Rangkaian tindakan antisipasi di Amerika Serikat telah dimulai pada tanggal 5 September. Saat itu, pemerintah AS mengambil alih perusahaan pembiayaan Fannie Mae dan Freddie Mac untuk penyehatan arus kas dua perusahaan tersebut.  Selanjutnya, pada tanggal 16 September The Fed mengucurkan pinjaman USD 85 miliar ke American International Group untuk mengambil alih 80 persen saham perusahaan asuransi tersebut.  Pada tanggal 18 September 2008, Pemerintah AS meminta Kongres untuk menyetujui paket penyelama- tan ekonomi, berupa dana talangan pemerintah (bail- out) USD 700 miliar. Presiden George Bush menyatakan perekonomian AS dalam bahaya jika Kongres tidak menyetujui rencana bailout.   Meskipun demikian, tanggal 29 September 2008, Kongres AS menolak rencana bailout. Akibatnya, In- deks Dow Jones merosot 778 poin, posisi yang terbe- sar dalam sejarah pasar saham di Amerika Serikat.  
Akhirnya tanggal 3 Oktober 2008, Kongres menyetujui bailout. Selanjutnya, Presiden Bush menan- datangani UU Stabilisasi Ekonomi Darurat 2008. Undang-undang yang memuat rencana pengucuran dana talangan pemerintah (bailout) sebesar USD 700 miliar untuk mengambil alih beberapa perusahaan dan lembaga keuangan yang merugi di pasar modal AS. 
B.     Krisis Keuangan AS yang Mengglobal
Masalah subprime mortgage di Amerika Serikat sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Agustus 2007. Hal itu sudah ditengarai akan menjadi gelembung subprime (bubble), akan tetapi pemerintah Amerika Serikat terus mengucurkan uang dan menurunkan suku bunga untuk mengangkat sektor industri teknologi yang mengalami penurunan.  Usaha Pemerintah AS dengan mengucurkan dana talangan pemerintah sebesar USD 700, hanya sementara saja dapat meredam gejolak pasar. Pasalnya, mayoritas investor di seluruh dunia terpaksa menjual por- tofolio saham yang dimiliki secara besar-besaran untuk menutupi kebutuhan likuiditas sehingga mengakibatkan terhempasnya pasar modal dunia.
C.    Dampak Krisis di Beberapa Kawasan
Dampak krisis ekonomi berbeda di setiap negara akan berbeda karena perbedaan kebijakan yang di- ambil dan fundamental ekonomi negara bersangkutan. Tentunya, negara yang paling rentan adalah negara yang fundamental ekonomi domestiknya tidak kuat.  Kuatnya dampak krisis ini pun telah menyebabkan Bank Dunia dan IMF mengoreksi proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi berbagai negara dan dunia. Perekonomian AS, misalnya, diprediksi akan melemah menjadi tumbuh sebesar 1,3 persen pada 2008 dari sebelumnya sebesar 2,7 persen pada 2007. Demikian pula, negara-negara di kawasan Eropa, diprediksi akan melemah dari 2,6 persen pada 2007 menjadi 1,4 persen pada 2008. Adapun laju pertumbuhan Indonesia diperkirakan turun dari 6,5 persen 2007 menjadi sekitar 6,0 persen pada 2008 (IMF, 2008).
D.    Kawasan Eropa
Salah satu negara yang saat ini terkena dampak krisis finansial AS cukup parah adalah Islandia. Sebelumnya, Islandia berada di tingkat ke 4 negara termakmur dengan GNP per kapita sekitar USD60,000 (IMF, 2008).  Setelah krisis mata uang Islandia, Krona, terdepresiasi hingga 30 persen. Sementara itu, bank sentral Islandia tidak mampu menjamin simpanan masyarakat disebabkan utang luar negeri perbankan swasta yang besarnya 11 kali lipat dari PDB negara itu. Sebelum krisis, Bank Sentral Islandia menjalankan kebijakan inflation targeting yaitu menaikkan suku bunga apabila inflasi di atas target dan menurunkannya di saat inflasi berada di bawah target.  Kebijakan tersebut umumnya berhasil diterapkan pada negara-negara besar, tapi tidak tepat untuk negara kecil seperti Islandia. Selama kebijakan tersebut berlangsung, tingkat inflasi berada di atas rata-rata target inflasi dengan suku bunga yang mencapai lebih dari 15 persen.
Di negara kecil seperti Islandia, suku bunga yang tinggi merangsang perusahaan domestik dan rumah tangga untuk meminjam dalam mata uang asing. Hal tersebut jelas menarik minat spekulan valuta asing,  sehingga menyebabkan besarnya arus masuk valuta asing yang mengakibatkan tajamnya perbedaan nilai tukar valuta asing. Para spekulan dan debitor juga mendapatkan keuntungan besar dari selisih suku bun- ga di Islandia dan luar negeri. Sama halnya dengan keuntungan yang diraih dari selisih nilai tukar Krona dengan mata uang asing lainnya. Hal tersebut juga mendorong pertumbuhan ekonomi semu dan meningkatkan laju inflasi. Hasil akhirnya, adalah “balon-balon” ekonomi yang diakibatkan oleh interaksi suku bunga domestik dan banyaknya arus masuk mata uang asing ke Islandia. Perbedaan nilai tukar Krona Islandia yang jauh dari fundamental ekonomi realistis mengakibatkan menurunnya nilai mata uang tersebut. Bank Sentral Islandia gagal untuk mencegah naiknya nilai untuk mencegah naiknya nilai tukar dan gagal untuk meningkatkan cadangan devisa mereka. 
Keadaan ini diperparah dengan utang luar negeri bank- bank swasta yang terlalu besar, sehingga Bank Sentral Islandia tidak mampu lagi memberikan jaminan atas aset-aset bank tersebut maupun memberikan jaminan likuiditas. Berbeda dengan negara Eropa lainnya yang masih mampu men- jamin simpanan masyarakat pada level tertentu.

E.     Kawasan Asia Pasifik
Sistem pasar bebas membuat negara-negara di kawasan Asia Pasifik pun terkena dampak krisis keuan- gan global tersebut. Salah satu dampak tersebut bisa muncul melalui financial market. Cadangan devisa USD 1 triliun tak menjamin Jepang bebas dari krisis finansial global. Pasar saham di Negeri Matahari Terbit itu juga terkena dampak krisis keuangan global. Ketika investor panik, akhirnya indeks saham Nikkei turun hingga 11,4 persen, penurunan terbesar sejak 1987.  Sejak awal Oktober 2008, indeks saham di Negeri Sakura sudah terkoreksi sekitar 20 persen. Hal yang sama juga terjadi di hampir semua pasar modal di Asia. Selama sepekan, indeks Hang Seng Hong Kong sudah turun 10,78 persen. Indeks Strait Times Singapura terkoreksi  9,53 persen dan Indeks Kospi Korea turun 8,37 persen. Dampak lain yang bisa dilihat adalah anjloknya nilai ekspor negara-negara Asia. Contoh paling dekat adalah perekonomian Singapura dan Hongkong. Singapura dan Hongkong dapat terpengaruh besar, karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia.  Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim
secara besar-besaran ke Amerika Serikat Laporan kuartal IV-2007, ekonomi Singapura yang biasanya tumbuh sekitar 9 persen, anjlok ke 6 persen. Itu menunjukkan kemerosotan ekonomi Amerika berdampak terhadap negara-negara Asia lainnya.  Bahkan ekonomi Cina, yang dianggap memiliki kekebalan terhadap resesi negara lain, juga terkena imbas. Indeks Shanghai anjlok dan mulai mengantisipasi penurunan ekspornya ke AS dengan mengalihkan ke pasar regional tentunya termasuk Indonesia.  Tentu dibutuhkan kebijakan yang tepat bagi kita untuk mempertahankan pertumbuhan ekspor. Di samping itu, bagi negara-negara lain, perlu juga mewaspadai adanya kemungkinan membanjirnya produk Cina akibat tidak terpenuhinya pasar ekspor mereka di Amerika serikat.[6]
Masih belum terlupakan bagaimana Indonesia mengalami situasi dan kondisi yang menegangkan saat kerusuhan tahun 1997. Ya ketika itu negara ini mengalami Krisis Ekonomi atau juga dikenal dengan “Krisis Asia”. Namun sebenarnya fakta menyebutkan krisis ekonomi pada saat itu juga melanda perekonomian global. Imbasnya tentu saja dihadapkan dengan menurunnya kualitas kesejahteraan rakyat. 
Hal ini merupakan jelasnya keterkaitan hubungan antara sektor moneter dengan sektor riil. Patut disadari atau tidak segala kebijakan dan berbagai lembaga di bawahnya, sektor moneter hanyalah fasilitator bagi sektor riil. Lalu kita akan mencoba melakukan analisis tentang dampak krisis ekonomi di Indonesia.

Penyebab Krisis Ekonomi Menurut Identifikasi Pakar :
  1. Adanya productivity gap (kesenjangan produktifitas) yang erat berhubungan dengan lemahnya alokasi aset ataupun faktor - faktor produksi.
  2. Fenomena diequilibrium trap (jebakan ketidak seimbangan) berkaitan tentang ketidakseimbanagan struktur antar sektor produksi.
  3. Fenomena loan addiction ( ketergantungan pada hutang luar negeri imbas dari perilaku para pebisnis yang sering beraktifitas dalam bentuk mata uang asing (foreign currency). [7]
Modal (dolar AS) lari dari Thailand
           
           
Bath depresiasi
Modal (dolar AS) lari dari Indonesia
Rupiah Depresiasi
Harga Impor (dolar As)
Krisis keuangan perusahaan
Krisis keuangan perbankan
Output menurun
Inflasi meningkat
Permintaan menurun
PDB menurun
Kemiskinan meningkat
Pengangguran meningkat
Impor berkurang
Perusahaan bangkrut
Perbankan hancur
 



















Proses terjadinya Krisis Ekonomi di Indonesia[8]

2.4. TINDAKAN PENCEGAHAN KRISIS
Saat ini hampir semua negara-negara di dunia menganut sistem pasar bebas. Aliran dana bebas keluar masuk dari satu negara ke negara lainnya, dengan regulasi moneter yang bervariasi dari satu pemerintah ke pemerintah lainnya. Karena semua negara terkait satu sama lainnya dalam ekonomi global yang terintegrasi, semua pun berisiko untuk terimbas krisis.  Krisis keuangan Amerika terjadi karena banyak pembeli perumahan tidak dapat membayar kewajiban kepada lembaga pembiayaan perumahan. Baik, karena kenaikan suku bunga pinjaman Bank Sentral Amerika (The Fed), ataupun karena tidak memenuhi syarat sebagai pengguna kredit sektor properti. Padahal, lembaga pembiayaan perumahan tersebut memiliki kewajiban mencairkan subprime mortgage securities yang diperjualbelikan dengan pihak ke tiga (lembaga keuangan lain).
Akibat tidak mampu membayar kewajiban, maka perusahaan pembiayaan perumahan tersebut dinyatakan bangkrut. Untuk menjaga likuiditas keuangannya, lembaga keuangan yang memiliki investasi portofolio dalam bentuk subprime mortgage securities, juga melepas portofolio yang dimiliki. Tentu saja, pelepasan portofolio tersebut akan dipilih dalam bentuk instrumen investasi yang mudah dicairkan.  Aksi jual portofolio dalam jumlah yang besar itulah yang mengakibatkan kepanikan pasar modal di berbagai negara. Sebab, transaksi yang dilakukan jelas terekam dan tercatat dalam pasar modal.  Seiring terjadinya kepanikan dalam pasar modal, pasar uang juga mulai bergejolak. Gejolak itu lebih disebabkan karena kebutuhan terhadap mata uang tertentu untuk menjaga likuiditas keuangan. Lembaga-lembaga keuangan yang telah melepas portofolionya di pasar modal, melakukan aksi beli  Terjadinya flukstuasi kurs mata uang di pasar uang regional, lambat laun mengakibatkan pertambahan laju inflasi di beberapa negara, karena terjadinya ketidaksetabilan harga komodi-komoditi tertentu. Pada akhirnya laju inflasi yang tidak terkontrol akan mengakibatkan resesi dalam suatu negara, akibat runtuhnya sendi-sendi perekonomian negara tersebut.
A.    Strategi Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi Global
a)      Amerika Serikat
Beberapa langkah kebijakan yang diambil pemerintah AS dalam mengatasi dampak krisis keuangan adalah memberikan dana talangan (bailout) sebesar USD700 miliar. Dana ini ditujukan untuk menyelamatkan institusi keuangan dan perbankan demi mencegah krisis ekonomi yang berkepanjangan. Bailout dilakukan dalam bentuk pembelian surat utang subprime mort- gage yang macet dari investor. Langkah berikutnya yang diambil Bank Sentral adalah menurunkan suku bunga 0,5 persen menjadi 1,5 persen. Hal tersebut dilakukan agar dana-dana masyarakat tidak mengendap di bank dan bisa menggerakkan sektor riil. Selain itu, pemerintah juga berjanji membeli surat berharga jangka pendek USD900 miliar.  Adapun Bank Sentral Amerika (Federal Reserve) juga mengumumkan rencana radikal untuk menutup sejumlah besar utang jangka pendek yang bertujuan menciptakan terobosan dalam kemacetan kredit yang mengakibatkan krisis finansial global.
b)     Kawasan Eropa
o   Islandia
Untuk mengatasi dampak krisis keuangan global, Pemerintah Islandia menasionalisasi Bank Glitnir yang bangkrut. Kemudian memecat Dewan Direksi Landsbanki, bank terbesar di negeri tersebut yang juga mengalami kebangkrutan serta memberikan suntikan dana pada bank-bank bermasalah. Dalam mestabilkan nilai tukar mata uang Krona, yang diperdagangkan hingga 202 Krona per Eur 1 (satu Euro), pemerintah mematok kurs Krona Eslandia setara dengan 131 Krona per Eur 1. Setelah otoritas moneter Islandia tidak mampu lagi menjamin aset-aset bank, Rusia memberikan suntikan dana USD 37 miliar ke bank-bank besar Islandia, de- mikian juga Swedia ikut turun tangan memberikan sun- tikan dana sebesar USD 702 juta. Pemerintah Islandia optimis dalam jangka panjang akan bisa recovery karena memiliki potensi cadangan gas alam dan sumber daya manusia yang handal.
o   Inggris
Otoritas moneter Inggris menurunkan suku bunga   0,5 persen menjadi 4,5 persen. Penurunan tersebut merupakan yang terbesar dalam tujuh tahun terakhir.   Langkah lain yang dilakukan adalah merekapitalisasi Santander, Barclays, HBOS, HSBC, Lloyds TSB, Na- tionwide Building Society, Royal Bank of Scotland, dan Standart Chartered. Pemerintah juga menjamin utang berupa surat berharga berjangka pendek dengan nilai USD 250 miliar untuk jangka menengah.  Bank of England juga menyediakan GBR 200 mil- iar (200 miliar poundsterling) untuk pinjaman jangka pendek perbankan. Pemerintah bertemu dengan bank- bank diantaranya Royal Bank of Scotland, Lloyds TSB, dan Barclays, yang memerlukan suntikan dana masing-masing USD 26 miliar.
o   Perancis
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy di depan sidang  kabinet mengatakan, negara siap menolong permoda- lan bank-bank utama di Perancis. Selain itu pemerintah Perancis juga  meminta Jepang dan Pemimpin G-8 untuk melakukan pertemuan darurat untuk menenangkan krisis.
o   Rusia
Pemerintah menutup bursa saham sebagai usaha untuk membendung kepanikan investor akibat penu- runan indeks saham, dan meminjamkan dana sebesar USD 37 miliar kepada bank-bank besar.  Pemerintah Rusia juga akan memberikan suntikan dana 500 miliar rubel kepada Sberbank, 200 miliar rubel pada VTB (Bank milik pemerintah). Selain itu Rusia juga  menyerukan pertemuan G-8 dan meminta keterlibatan Cina dalam melakukan upaya bersama untuk mengatasi krisis.

o   Uni Eropa
Para menteri keuangan 27 negara anggota Uni Eropa segera melakukan pertemuan untuk membahas jumlah simpanan maksimum yang akan mendapatkan jaminan pemerintah. Pembahasan  dikhususkan untuk memastikan peningkatan jumlah simpanan yang dija- min oleh negara masing-masing. Selain itu, Uni Eropa juga menurunkan suku bunga Bank Sentral Eropa dari 0,5 persen menjadi 3,75 persen.
c)      Kawasan Asia Pasifik
o   China
Untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi Peo- ple’s Bank of China (PBOC) sebagai otoritas moneter  menurunkan suku bunga dari 7,2 persen menjadi 6,93 persen. Selanjutnya, Pemerintah China berjanji mem- bantu AS dalam mengatasi krisis.
o   Korea Selatan
Pemerintah Korea Selatan meminta teknokrat ekonomi menyiapkan rencana-rencana darurat dalam mengantisipasi dampak terburuk krisis keuangan AS dan mengusulkan koordinasi dengan Menteri Keuan- gan Cina dan Jepang. Pemerintah juga  meminta otori- tas perbankan menjamin kebutuhan dana perusahaan lokal, termasuk kebutuhan terhadap dolar AS.
o   Thailand
Federasi Industri Thailand mengajukan langkah- langkah kepada menteri keuangan untuk melakukan: Penurunan bea masuk impor, Peningkatan keyakinan konsumen, Penurunan pajak korporasi, Meminta otoritas moneter untuk mengawasi produk- produk investasi asing yang dapat memperburuk kondisi keuangan Thailand.
o   Australia
Bank Sentral Australia menurunkan suku bunga menjadi 6 persen. Hal itu dilakukan untuk melonggar- kan likuiditas yang mulai terasa kurang di sistem per- bankan Australia. Krisis finansial dunia yang berdampak terhadap bank-bank komersial, memukul mata uang, menekan ekspor, dan mengganggu produksi saat ini sudah mem- pengaruhi bisnis properti di sejumlah negara. Di China, penutupan pabrik sudah mulai terjadi.  Merespons krisis keuangan global, umumnya bank sentral di berbagai negara memangkas suku bunga. Sebagian besar negara menjamin penuh seluruh dana masyarakatnya.
Sementara itu, di sektor pasar saham, guna menghindari berbagai transaksi dan penurunan harga saham terjadi karena irasionalitas pemodal. Kebanyakan otoritas di berbagai negara melakukan pendekatan komprehensif, sistematis, dan serius untuk memastikan sektor tersebut tidak jauh terpuruk melalui berbagai in- strumen kebijakan moneter dan yang sejenisnya. 
Lembaga pemeringkat kredit internasional Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan, sebagian besar negara Asia Pasifik akan menghadapi tantangan dari efek babak pertama resesi Amerika Serikat (AS). Tetapi, ka- wasan ini diperkirakan mampu menepis dampak buruk resesi AS. Dalam laporannya, lembaga itu mengungkapkan implikasi-implikasi dampak resesi bagi fundamental ekonomi dan kredit sejumlah pemerintahan di kawasan Asia Pasifik. Menurut S&P, permintaan domestik dan perdagangan antarkawasan diperkirakan mampu mengatasi dampak langsung merosotnya permintaan impor AS.
Meskipun demikian, negara-negara Asia Pasifik juga harus bertarung mengantisipasi risiko-risiko lain yang disebabkan melonjaknya harga-harga sumber energi dan makanan, ketatnya likuiditas global, serta kemungkinan melemahnya pertumbuhan ekonomi negara-negara Eropa. Sebagian besar negara di kawasan Asia Pasifik, pada dasarnya dapat mengatasi dampak krisis keuangan global, karena tingginya prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan secara keseluruhan, kapasitas kebijakan fiskal dan moneter untuk memitigasi efek buruk resesi, dan solidnya dukungan dana bagi negara-negara yang kurang maju.[9]
Belajar dari pengalaman krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada tahun 1997 -1998, kini pemerintah Indonesia tampak lebih siap, kendati baru pada tahapan menggelar landasan fundamental yang telah dibenahi pada sektor perbankan, neraca pembayaran, fiskal dan moneter, serta kondisi secara makro. Kesiapan Indonesia telah dilakukan dalam tiga tahun terakhir berupa penurunan suku bunga. Kondisi kondusif telah banyak membawa hasil positif pada permintan agregat dan struktur penyaluran kredit yang meningkat 25%, dan telah menggerakkan sektor real, serta meningkatkan penerimaan pajak. Penghasilan devisa dari ekspor, tidak tergantung ekspor terhadap negara maju seperti; Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan yang lain,  karena kontribusinya hanya sekitar 7% terhadap PDB. Multiplier effect dari merosotnya pertumbuhan ekonomi negara-negara maju berpotensi membawa dampak pada sirkulasi ekonomi kawasan Asia. Turunnya ekspor  kawasan Asia ke negara-negara maju, akan berpengaruh juga pada pertumbuhan ekonomi kawasan Asia. Untuk mengantisipasi penurunan ekspor,
perlu dijaga eksistensi pasar domestik dalam negeri agar tidak terdistorsi oleh membanjirnya produk dumping dari negara-negara Asia yang melakukan crash program , dalam mengalihkan alokasi ekspor dari negara maju ke negara berkembang. Indonesia harus mampu menyelamatkan captive market dalam negeri untuk menanggulangi kompetisi global di pasar dalam negeri.[10]
Menyadari dampak yang cukup mencemaskan jika resesi apalagi depresi benar- benar terjadi, maka Amerika Serikat serius melakukan usaha pencegahan agar krisis tidak berkepanjangan dengan berbagai kebijakan  yaitu;
a. IMF berusaha merilis decoupling , agar keadaan krisis tidak menjalar ke seluruh dunia, dengan melakukan mitra kerja dengan  negara-negara lain. 
b. The Fed menurunkan suku bunga dari 4,25%  menjadi 3,5% (12 Januari 2008), dan 3% (akhir Januari 2008), kemudian 2,5%, bahkan di kuartal I  tahun 2009 mengarah pada 0% (Warta Ekonomi April 2009). Kebijakan ini bertujuan mendongkrak harga sekuritas, dan jaminan rasa aman.
c. awal tahun 2008 pemerintah memberikan stimulus fiskal  sebesar US$150 miliar ( tax rebates ) US$800 setiap rumah, dan pada  bulan Februari 2009 direncakan  stimulus fiskal sebesar US$787 miliar (peningkatan daya beli).
d. The Fed dan Pemerintah Amerika Serikat melakukan positioning yang tepat, dan  berusaha mengembalikan kepercayaan pasar bisnis internasional.
e. Menteri Keuangan Henry Paulson, menganjurkan agar  sepuluh bank besar di Amerika Serikat mencari suntikan dana segar yang berasal dari luar APBN. Kebijakan moneter dan fiskal yang dilakukan ini, baru mencapai pada tataran  emergency menyelamatkan perekonomian.[11]

2.5. ANALISIS KRISIS EKONOMI INDONESIA DAN GLOBAL
Harga minyak dunia yang sempat menembus US$ 147 per barrel yang menyebabkan harga pangan melejit tinggi dan jatuhnya bank-bank raksasa di seluruh dunia menunjukkan terjadinya kebangkrutan kredit global yang pada gilirannya bisa mengarah kepada terjadinya resesi ekonomi. Agustus 2008 ini terulang kembali ledakan gelombang ekonomi di pasar perusmahan AS sebagai akibat dari subprime mortgage yang terjadi tahun lalu. Krisis ini terancam berakhir dengan depresi ekonomi yang mendunia. Depresi ini diperkirakan akan menghentikan pertumbuhan kesejahteraan dan lapangan kerja dalam perekonomian Barat selama kira-kira lebih dari satu dekade. Bangkrutnya Northern Rock di Inggris, Bear Sterns di Amerika serikat (AS), menyebabkan kian muramnya perekonomian dunia.
Bulan september 2008 adalah bulan dimana perusahaan-perusahaan terbesar di dunia ambruk. Tanggal 7 September, perusahaan prekreditan rumah Fannie Mae dan Freddie Mac , yang memberi garansi utang senilai 5,3 trilyun dolar, yang meliputi separuh lebih dari utang perkreditan rumah di AS, pun ambruk. Pemerintah AS akhirnya terpaksa menyelematkan dua perusahaan tersebut dengan menggelontorkan uang dari kas pajak warga negaranya sebesar 200 bilyun dolar. Dua perusahaan tersebut ambruk karena berani memberikan utang kepada orang-orang yang beresiko tinggi dalam masa-masa kejayaan ekonomi. Disusul kemudian beria yang menggemparkan dunia finansial adalah bangkrutnya salah satu Bank Investasi terbesar di pusat keuangan Wall Street di New York AS. Lehman Brothers, salah satu perusahaan investasi bank AS terbesar memasukkan permohonan status bangkrut pada tanggal 15 September 2008. Inilah akhir nasib suatu bank besar dan tertua yang berdiri di negara bagian Alabama tahun 1844 dan jatuh begitu saja– padahal di tahun 2007 Lehman masih melaporkan jumlah penjualan sebesar 57 bilyun dolar dan di bulan Maret lalu masih sempat dinyatakan oleh majalah Business Week sebagai salah satu dari 50 perusahaan papan atas di tahun 2008. Namun kini, Lehman bernilai tidak lebih dari cuma 2 bilyun dolar saja.
Krisis yang terjadi di Amerika serikat Serikat berakar pada besarnya gelembung kredit yang dikucurkan ke perumahan. Harga rumah di Amerika serikat, rata-rata turun hampir 5 persen. Banyak analis yang memprediksi bahwa harga akan turun lagi sebesar 10 persen, di mana hal tersebut akan menyebabkan penurunan harga rumah secara kumulatif dalam depresi ini. Bahkan di negara lain dampaknya bisa lebih buruk.
IMF memperhitungkan bahwa kerugian di seluruh dunia pada hutang yang berasal dari Amerika serikat (terutama yang berhubungan dengan mortgages) akan mencapai 1,4 triliun US dolar, perhitungan ini meningkat dari perkiraan awal yang mencapai 945 miliar US dolar pada bulan April 2008. Sejauh ini 760 miliar dolar telah dicatat oleh bank, perusahaan asuransi, hedge fund dan lainnya yang memiliki hutang tersebut.
Secara global, bank sendiri telah dilaporkan mencapai kerugian sebesar 600 miliar US dolar dalam bentuk kredit dan telah mengeluarkan 430 miliar US dolar dalam bentuk modal baru. Bank-bank di Amerika serikat dan di Eropa akan mencucurkan dananya sebesar 10 triliun US dolar dalam bentuk aset, yang ekuivalen dengan 14,5 persen dari stok kredit bank di tahun 2009.
 Di Amerika serikat secara keseluruhan pertumbuhan kredit akan melambat di bawah 1 persen, turun dari rata-rata pertahun setelah masa perang yang mencapai 9 persen. Hal itu sendiri dapat menurunkan pertumbuhan perekonomian negara-negara barat sebesar 1,5 persen. Tanpa tindakan maju dari pemerintah yang akan mencucurkan dana sebesar 700 miliar US dolar, perhitungan IMF menunjukan bahwa kredit akan turun sebesar 7,3 persen di Amerika serikat, 6,3 persen di Inggris, dan 4,5 persen di seluruh eropa.
Sejumlah negara-negara kaya saat ini mengalami resesi, sebagian karena kredit yang ketat dan sebagian lagi karena melonjaknya harga minyak pada awal tahun ini. Pendapatan nasional di Inggris, Perancis, Jerman, dan Jepang turun. Dengan melihat cepatnya para pekerja yang kehilangan pekerjaannya dan lemahnya daya beli konsumen, perekonomian Amerika serikat juga mengalami kemunduran.
Sejarah mengajarkan pelajaran penting, bahwa krisis perbankan yang besar akhirnya diselesaikan dengan menggunakan sejumlah besar uang publik, dan kemudian tindakan pemerintah yang tegas, baik itu untuk merekapitalisasi bank atau mengambil alih kredit yang bermasalah, dapat meminimalkan biaya kepada pembayar pajak dan dampak krisis tersebut ke perekonomian. Contohnya, Swedia dengan cepat mengambil alih bank yang bermasalah setelah terjadinya kegagalan properti di awal tahun 1990-an dan pulih dengan cepat. Secara kontras, Jepang harus menempuh satu dekade untuk pulih dari krisis keuangan  dengan biaya pembayar pajaknya yang ekuivalen dengan 24 persen GDP nya.
Pemerintah Amerika Serikat telah telah meletakkan 7 persen GDP nya pada garis batas, sejumlah uang yang sangat banyak sebesar 16 persen GDP dimana rata-rata krisis perbankan yang sistemik diselesaikan dengan biaya dari bantuan dana publik. Saat ini bagaimana Amerika serikat mengusulkan bekerjanya Troubled Asset Relief Programme (TARP) masih belum jelas. Departemen Keuangan Amerika Serikat berencana membeli sejumlah besar utang yang bermasalah dengan menggunakan mekanisme lelang, di mana bank menawarkan untuk menjual pada suatu harga tertentu dan pemerintah membeli dari harga terendah sampai tertingi. Kompleksitas dari ribuan hipotek yang dijamin dengan aset akan membuat hal ini menjadi sulit. Bila rekapitalisasi bank secara langsung masih dibutuhkan, Departemen Keuangan dapat melakukan hal itu juga. Hal yang utama adalah Amerika serikat harus bersiap-siap melakukan tindakan tegas.
Untuk sementara waktu, hal tersebut menawarkan alasan optimisme. Begitu juga dengan kekuatan dari emerging market terbesar, terutama China. Perekonomian negara ini tidak terpengaruh sebagaimana negara-negara lain terlihat berjatuhan. Pasar saham mereka terjun dan banyak mata uang telah turun tajam. Permintaan domestik di negara-negara emerging market melambat tetapi tidak kolaps. IMF berharap perekonomian negara-negara emerging market, yang dipimpin oleh China, untuk tetap tumbuh sebesar 6,9 persen pada 2008 dan 6,1 persen pada 2009. Hal itu akan menjadi bantal perekonomian dunia meski tidak akan menyelamatkannya dari resesi.
Inflasi yang tinggi dan terus menerus melonjak bersamaan dengan lemahnya keuangan menyebabkan bank sentral mengalami kebingungan dan menghadapi trade off yang berbahaya. Mereka dapat mengetatkan kebijakan moneter untuk menghindari dari inflasi yang lebih tinggi dan menjadi berurat akar (sebagaimana yang dilakukan ECB), atau mereka dapat memotong suku bunga untuk membantali lemahnya sisi finansial (sebagaimana yang dilakukan The Fed). Dilema tersebut sekarang berakhir. Hal tersebut terjadi karena turunnya harga komoditas secara tajam, indeks harga konsumen yang sempat mencapai puncaknya yang akan menimbulkan resiko inflasi telah mereda. Bila harga minyak tetap pada level saat ini, indeks harga konsumen Amerika serikat mungkin saja turun dibawah 1 persen pada pertengahan tahun ini. Kemudian pembuat kebijakan akan mulai segera mengkhawatirkan adanya deflasi.
Masalahnya terletak pada besarnya difisit neraca berjalan Amerika serikat yang bergantung pada pembiayaan luar negeri. Amerika Serikat memiliki keuntungan bahwa mata uangnya yakni dolar adalah mata uang cadangan devisa tiap negara, dan sebagaimana kekacauan pasar finansial telah meluas, dolar akan menguat. Tetapi krisis kali ini juga menguji banyak fondasi dimana orang asing loyal terhadap dasar dolar, seperti jangkauan pemerintah yang terbatas dan pasar modal yang stabil. Bila orang asing melarikan dolar, maka amerika serikat akan mengalami dua mimpi buruk yang menghantui negara-negara emerging market dalam kehancuran pasar keuangan: secara simultan terjadi krisis mata uang dan perbankan. Utang amerika serikat, tidak seperti utang-utang negara emerging market, utang Amerika Serikat didenominasikan dalam bentuk mata uangnya sendiri, yaitu dolar. Tetapi kolapsnya dolar akan tetap menjadi sebuah bencana.
Apa yang akan menjadi efek jangka panjang dari kekacauan pasar finansial ini terhadap ekonomi dunia? Memprediksi konsekuensi dari krisis yang belum selesai adalah suatu yang bahaya. Tetapi sudah jelas bahwa, bahkan dalam ketiadaan bencana, arah globalisasi akan berubah. Dua dekade yang lalu pertumbuhan integrasi perekonomian dunia telah bersama-sama dengan semakin berkembangnya pengetahuan dari anglo-saxon kapitalisme pasar bebas, dengan amerika serikat sebagai cheerleadernya. Pembebasan aliran perdagangan dan modal juga deregulasi industri domestik dan keuangan telah menyebabkan pesatnya perkembangan globalisasi. Integrasi global, dalam jumlah besar, telah menyebabkan kemenangan pasar atas pemerintah. Proses ini sekarang berbalik menjadi 3 jalan yang berbeda.
Pertama, keuangan negara-negara barat akan diregulasi. Pada tingkat minimalnya, wilayah yang paling bebas di keuangan modern, seperti 55 triliun US dolar untuk derivasi kredit akan diatur. Peraturan akan modal akan diperiksa secara seksama untuk menurunkan solvabilitas dan meningkatkan daya rentang sistem. Overlaping dari pembuat peraturan akan diatur kembali. Seberapa besar kontrol yang akan dikenakan akan kurang bergantung kepada ideologi daripada parahnya penurunan ekonomi.
Yang kedua, keseimbangan antara negara dan pasar berubah dalam wilayah selain keuangan. Untuk kebanyakan negara, shock yang sangat penting dalam beberapa tahun yang lalu adalah naiknya harga komoditi secara besar-besaran, dimana politisi juga disalahkan karena adanya spekulasi keuangan. Naiknya harga makanan di akhir 2007 dan awal 2008 telah menyebabkan adanya pemberontakan di 30 negara. Untuk meresponsnya, pemerintah di negara-negara emerging market memperluas jangkauannya, menaikan subsidi, memperbaiki harga, melarang expor dari komoditas penting, bahkan pada kasus india, pemerintahnya melarang perdagangan future.
Ketiga, Amerika serikat kehilangan pengaruh ekonomi dan wewenang intelektual. Sebagaimana negara-negera yang perekonomiannya sedang tumbuh pesat membentuk arah dari perdagangan global, sehingga mereka akan meningkatkan bentuk keuangan masa depan. Seperti China yang merupakan negara kaya kapital dan mudah dalam memberi kredit. Deleveraging dalam perekonomian barat akan sedikit tidak terlalu terasa bila savings di negara-negara asia yang kaya dan negara pengekspor minyak menyuntikan dananya.
Momentum krisis keuangan AS ini merupakan kesempatan untuk mengubah persepsi pasar modal Indonesia sebagai pasar modal dengan karakter high risk high return menjadi karakter pasar modal yang dapat memberikan harapan tingkat keuntungan (expected return) yang optimal dengan tingkat risiko investasi yang minimum sehingga bisa menarik modal masuk.
Sejumlah pakar ekonom mengatakan bahwa di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak akan mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil karena bursa di Indonesia hanya membawa pengaruh 20% dari ekonomi Indonesia. Selain itu krisis pasar modal seperti ini tidak akan kembali mengulang seperti krisis pada tahun 1997 karena depresisasi rupiah padah tahun itu adalah 100% dengan inflasi 20% NPL perbankan 60% dan SBI 50%. Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini hanya mendepresiasi rupiah sebesar 5%, inflasi 12,14% NPL perbankan 1% dan SBI 9,5%.
Namun Gejolak ini akan membawa kepada krisis atau tidak, kita harus selalu percaya bahwa krisis adalah peluang untuk memasuki era baru yang lebih baik. Semoga dunia bisa keluar dari krisis ini dengan situasi yang lebih baik. Dan semoga ekonom pemerintah Indonesia sudah pasang kuda-kuda melindungi ekonomi indonesia dari krisis ini. Kalau tidak, siap-siap tabungan kita semua di bank, hasil keringat kita bertahun-tahun, hilang dan menguap dalam krisis. Kita menjadi korban sistem ekonomi yang mengandalkan financial engineering bukan sistem yang berbasis sektor riil dan entrepreneurial.[12]


















BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Semenjak kenaikan harga minyak dunia yang menembus kisaran US $110 per barel pada awal tahun 2008 yang menggoncangkan stabilitas ekonomi makro di banyak negara, dengan syntom kenaikan inflasi dan pengeluaran negara untuk kepentingan subsidi. Sementara Indonesia yang kondisi ekonomi makronya relatif baik dalam tiga tahun terakhir ini harus menerima kenyataan pahit dari dorongan perubahan eksternal dengan melakukan penyesuaian anggaran. Konsumsi BBM di dalam negeri yang terus meningkat hingga mencapai 1,3 juta barel per hari, merupakan sebuah realita yang harus diderita Indonesia. Bahkan  pergeseran angka subsidi BBM dan listrik yang semakin membebani APBN, nyaris menghabiskan seperempat alokasi anggaran APBN.
2. Krisis global adalah peristiwa dimana seluruh sektor ekonomi di pasar dunia mengalami keruntuhan  (keadaan gawat) dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Krisis global ini berawal pada negara adidaya Amerika Serikat (AS) dimana dimulai dari kredit macet perumahan di Amerika Serikat yang merupakan sentrum bagi perekonomian dunia. Akibat dari krisis global yang terjadi di AS, ini member dampak besar pada dunia.
3.  Sejumlah pakar ekonom mengatakan bahwa di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak akan mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil karena bursa di Indonesia hanya membawa pengaruh 20% dari ekonomi Indonesia. Selain itu krisis pasar modal seperti ini tidak akan kembali mengulang seperti krisis pada tahun 1997 karena depresisasi rupiah padah tahun itu adalah 100% dengan inflasi 20% NPL perbankan 60% dan SBI 50%. Gejolak ekonomi yang terjadi saat ini hanya mendepresiasi rupiah sebesar 5%, inflasi 12,14% NPL perbankan 1% dan SBI 9,5%. Namun Gejolak ini akan membawa kepada krisis atau tidak, kita harus selalu percaya bahwa krisis adalah peluang untuk memasuki era baru yang lebih baik. Semoga dunia bisa keluar dari krisis ini dengan situasi yang lebih baik. Dan semoga ekonom pemerintah Indonesia sudah pasang kuda-kuda melindungi ekonomi indonesia dari krisis ini. Kalau tidak, siap-siap tabungan kita semua di bank, hasil keringat kita bertahun-tahun, hilang dan menguap dalam krisis. Kita menjadi korban sistem ekonomi yang mengandalkan financial engineering bukan sistem yang berbasis sektor riil dan entrepreneurial.





















DAFTAR PUSTAKA
Arisyi F. Raz, et.al. Krisis Keuangan global dan pertumbuhan ekonomi: Analisa dari perekonomian Asia Timur, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2012.
Basri, Faisal. PEREKONOMIAN INDONESIA tantangan dan harapan bagi kebangkitan Indonesia, penerbit Erlangga, Jakarta, 2002
Farida, Ais siti, S.E., M. SI. Sistem ekonomi Indonesia, penerbit pustaka setia, Bandung, 2011
Departemen komunikasi dan informasi. Memahami krisis keuangan global, Jakarta, 2008.

http://repository.binus.ac.id/2009-1/content/F0882/F088267957.pdf. Dampak Krisis Keuangan Global Bagi Indonesia, Didik Kurniawan Hadi Chief Economist Assistant  PT Recapital Advisor, akses 13 Juni 2016

Sihono, Teguh, krisis finansial amerika serikat  dan perekonomian indonesia, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 5 Nomor 2, Desember 2008.
Tambunan, Dr. Tulus T.H.  Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009.
-------------------------------. Perekonomian Indonesia era orde lama hingga Jokowi, Ghalia Indonesia, Bogor, 2015.




           


[1]  Arisyi F. Raz, et.al. Krisis Keuangan global dan pertumbuhan ekonomi: Analisa dari perekonomian Asia Timur, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2012, h.1. 20
[2] Dr. Tulus T.H. Tambunan, Perekonomian Indonesia, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009, h. 71-72
[3] Dr. Tulus T.H. Tambunan, Op Cit, h. 77
[4] Teguh Sihono, krisis finansial amerika serikat  dan perekonomian indonesia, Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 5 Nomor 2, Desember 2008  

[6] Departemen komunikasi dan informasi. Memahami krisis keuangan global, Jakarta, 2008, h. 11.8 – 21.88
[8]  Dr. Tulus T.H. Tambunan, Op Cit, h. 78

[9] Departemen komunikasi dan informasi, Op Cit, h. 24.88-29.88
[10] Ibid. h. 16. 21-22
[11], Teguh Sihono, Op. Cit. h. 9. 22.
[12] http://repository.binus.ac.id/2009-1/content/F0882/F088267957.pdf. Dampak Krisis Keuangan Global Bagi Indonesia, Didik Kurniawan Hadi Chief Economist Assistant  PT Recapital Advisor, akses 13 Juni 2016


 



Comments

  1. Kabar Baik, Setiap Satu. Nama saya Aris Setymin Dari Indonesia tapi aku tinggal di Prahova Rumania, aku cepat-cepat ingin menggunakan media ini untuk berbagi kesaksian tentang bagaimana Tuhan mengarahkan saya untuk pemberi pinjaman kredit Legit dan nyata yang telah mengubah hidup saya dari rumput untuk rahmat, saya pernah menjadi miskin wanita tapi dia telah berubah saya untuk orang kaya sekarang, karena saya sekarang dapat membanggakan dari hidup sehat dan kaya tanpa stres atau kesulitan keuangan.

    Setelah berbulan-bulan mencoba untuk mendapatkan pinjaman di internet, saya ditipu oleh perusahaan pinjaman lain untuk membayar jumlah total Rp98,700,500, saya menjadi begitu putus asa dalam mendapatkan pinjaman dari pemberi pinjaman online yang sah yang tidak akan meningkatkan rasa sakit saya, jadi aku memutuskan untuk menghubungi seorang wanita yang baru saja pinjaman diterima secara online, kita membahas tentang masalah ini dan kesimpulan kami dia bercerita tentang seorang wanita bernama CYNTHIA JOHNSON yang merupakan CEO dari Cynthia Johnson Pinjaman Perusahaan.

    Aku diterapkan untuk jumlah pinjaman ($520,000.00USD) dengan tingkat bunga rendah dari 2%, sehingga pinjaman disetujui dengan mudah tanpa stres dan semua persiapan dilakukan pada transfer kredit, karena fakta bahwa tidak memerlukan agunan untuk transfer pinjaman, saya hanya diberitahu untuk mendapatkan sertifikat lisensi kesepakatan dari mereka untuk mentransfer kredit saya dan dalam waktu kurang dari dua jam dan 20 menit pinjaman disetorkan ke rekening bank saya.

    Jadi saya ingin saran siapa saja yang membutuhkan pinjaman untuk cepat menghubungi dia melalui: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dia tidak tahu bahwa saya melakukan ini dan saya berdoa agar Tuhan memberkati dia dan keluarganya untuk hal-hal baik yang telah dilakukan di hidupku. Anda juga dapat menghubungi saya di arissetymin@gmail.com untuk info lebih lanjut. dan di sini adalah email dari teman saya: ladymia383@gmail.com yang memperkenalkan saya kepada Ibu Cynthia Anda juga dapat menghubungi dia.

    ReplyDelete
  2. Halo,
    Saya Mrs. Maryjane Brown, pemilik perusahaan pinjaman swasta. Apakah Anda mencari pinjaman untuk memulai bisnis? Apakah

    kamu turun

    secara finansial dan mencari bantuan? Mencari pinjaman untuk berdiri teguh secara finansial, melunasi utang, tagihan,

    pajak, dan

    pungutan. Sudahkah Anda mengajukan pinjaman di bank, masyarakat kooperatif, perusahaan dan tidak mendapat tanggapan

    positif. Ini adalah era baru

    dan kami cenderung membanggakan kehidupan finansial Anda. Kami memberikan pinjaman kepada individu internasional dan lokal

    yang cenderung membutuhkan

    pinjaman dan dapat membayar kembali dengan tarif murah lebih murah 2%. Perusahaan saya telah terdaftar dan disetujui oleh

    Kerajaan Inggris untuk membantu

    dan mengendalikan lembaga keuangan di seluruh dunia. Saya memberikan pinjaman melalui transfer bank atau rekening bank dan

    tidak membutuhkan banyak

    dokumen.
    Anda dapat menghubungi kami melalui Email: (maryjanefinancialservices@gmail.com). Datanglah kepada kami dan kami akan lebih

    baik hidup Anda.

    ReplyDelete
  3. Halo,
    Saya Mrs. Maryjane Brown, pemilik perusahaan pinjaman swasta. Apakah Anda mencari pinjaman untuk memulai bisnis? Apakah

    kamu turun

    secara finansial dan mencari bantuan? Mencari pinjaman untuk berdiri teguh secara finansial, melunasi utang, tagihan,

    pajak, dan

    pungutan. Sudahkah Anda mengajukan pinjaman di bank, masyarakat kooperatif, perusahaan dan tidak mendapat tanggapan

    positif. Ini adalah era baru

    dan kami cenderung membanggakan kehidupan finansial Anda. Kami memberikan pinjaman kepada individu internasional dan lokal

    yang cenderung membutuhkan

    pinjaman dan dapat membayar kembali dengan tarif murah lebih murah 2%. Perusahaan saya telah terdaftar dan disetujui oleh

    Kerajaan Inggris untuk membantu

    dan mengendalikan lembaga keuangan di seluruh dunia. Saya memberikan pinjaman melalui transfer bank atau rekening bank dan

    tidak membutuhkan banyak

    dokumen.
    Anda dapat menghubungi kami melalui Email: (maryjanefinancialservices@gmail.com). Datanglah kepada kami dan kami akan lebih

    baik hidup Anda.

    ReplyDelete
  4. Apakah Anda memerlukan keuangan cepat dengan A.P.R yang relatif rendah? Kami menawarkan keuangan bisnis, keuangan pribadi, keuangan rumah, pembiayaan mobil, keuangan pelajar, keuangan konsolidasi utang, e.t.c. tidak peduli skor kredit Anda. Kami dijamin memberikan layanan keuangan kepada banyak klien kami di seluruh dunia. Dengan paket pinjaman fleksibel kami, keuangan dapat diproses dan ditransfer ke peminjam dalam waktu sesingkat mungkin, hubungi spesialis kami untuk saran dan perencanaan keuangan.

    Regards:
    Company: RAMADHAN ISLAMIYAT LOANS
    email: (ramadhanislamiyatloans@gmail.com)
    PIN BB: (e32ddf1e)
    WhatsApp:( 447454810709)
    Blogger: (ramadhanislamiyatloanz.blogspot.com)
    Mother: Anita Ervina (CEO)

    ReplyDelete

Post a Comment