Bukankah dunia ini tempatnya lelah?

 




bukankan dunia ini adalah tempat untuk berlelah?

Lalu apa yang harus dikeluhkan?

Pagi ini hari selasa,
masih seperti hari-hari biasanya, aku bangun di pagi hari lalu menyiapkan kebutuhan untuk aktivitasku hari ini, hari ini adalah hari kedua setelah waktu liburan akhir pekan, hari ini juga masih seperti hari kemarin aku berangkat kerja pagi sekitar pukul 08.00.

Rintik hujan masih turun semenjak kemaren siang, aku memutuskan untuk berangkat tanpa  menggunakan jas hujan, karena rintik hujan yang turun tidak begitu deras sehingga aku cukup menggunakan jaket saja.

Perjalanan hari ini cukup senggang, tanpa banyak kendaraan yang melintas, sehingga aku leluasa berada dijalan, kebetulan hari ini aku tidak terburu-buru menuju tempat kerja.

Selama diperjalanan yang ditemani rintik hujan, aku merenung tentang diriku hingga hari ini, aku jadi teringat pertanyaan rekan kerjaku kemaren sore,

Pertanyaan itu menanyakan perihal aku dari mana mendapatkan informasi bekerja ditempatku bekerja hari ini, hingga akhirnya aku menjadi flashback jalan hidupku ketika masuk sekolah kejuruan dan mengambil jurusan accounting.

Ketika mengambil jurusan accounting aku berharap setelah lulus bisa bekerja disebuah perusahaan besar dan bonafit, hingga akhirnya aku lulus dan aku melanjutkan kuliah dengan mengambil jurusan ekonomi, dan mimpiku masih sama ketika awal masuk kuliah, bekerja di sebuah perusahaan besar dan bonafit, bertemu client, rapat kesana kemari, hingga akhirnya waktu awal kuliah aku sempat menulis dan aku tempel di dalam kamar kosn yang bertuliskan, “LULUS CEPAT DAN BEKERJA DI PERUSAHAAN BESAR”.

Seiring berjalannya waktu aku memutuskan untuk tidak bekerja diperusahaan dan dengan berbicara dengan orang tua, setelah lulus orang tua meminta untuk pulang kampung saja, bekerja di kampung saja, dan akupun menuruti perintah orang tua, karena aku selalu yakin apapun yang orang tua perintahkan selagi itu adalah kebenaran dan untuk kebaikan bersama pasti akan ada kebaikan-kebaikan yang akan mengiringi.

Setalah pulang di kampung aku merasa di fase yang bingung, aku yang dulu ingin bekerja di perusahaan namun banyak pertimbangan-pertimbanganku yang hingga akhirnya aku melamar pekerjaan di beberapa sekolahan di kampung, dengan bermodalkan yakin, lulusan S1 bukan pendidikan melamar pekerjaan sebagai seorang pengajar. Selama 2 bulan aku melamar pekerjaan belum ada satupun yang memanggilku, sempat aku berfikir apa karena aku tidak punya privilege di tempat-tempat aku melamar sehingga aku tidak kunjung dipanggil, pertanyaan-pertanyaan itu setiap hari hadir sampai akhirnya setelah aku menunggu 2 bulan kurang lebih aku di panggil salah satu sekolah yang aku masukan lamaran pekerjaan.

Dan akhirnya aku diterima menjadi guru mata pelajaran ekonomi di salah satu sekolah swasta yang jaraknya tidak jauh dari tempat tinggal, tidak lama aku diterima bekerja di sekolah yang lokasinya berada di kecamatan desaku, aku ditawari bekerja di sekolah dasar yang berada didekat rumahku menjadi operator sekolah, dan aku pun menerima tawaran itu dan menjalani dua profesi, menjadi pengajar di sekolah yang 15 menit dari rumah, dan menjadi operator sekolah yang berada didekat rumah.

Hingga waktu berjalan 1 tahun aku bekerja, aku memutuskan untuk resign dari operator sekolah dan memutuskan untuk fokus menjadi pengajar, dan tidak lama aku resign dari operator aku melamar pekerjaan di salah satu sekolah swasta juga yang jaraknya dari rumah sekitar 30 menit.

Dan tidak lama aku mamasukan lamaran pekerjaan aku di panggil untuk mengikuti tes wawancara sebagai pangajar, dan aku diterima di sekolah tersebut, dan aku menjadi mengajar di dua tempat.

Setelah aku diterima mengajar di sekolah tersebut, aku di tawarin pekerjaan yang aku impikan sedari duduk di sekolah kejuruan, yaitu bekerja di sebuah perusahaan yang ternama dan 95% aku sudah diterima dengan gaji UMR, tempat tinggal, dan bonus-bonus yang lain, jujur ketika itu aku bimbang, di satu sisi aku sudah mulai nyaman menjadi pendidik, di satu sisi  adalah mimpiku sedari dulu, walaupun ketika awal masuk kuliah menjadi pengajar bukanlah mimpiku sama sekali, tapi selama satu tahun aku menjalani profesi pendidik aku nyaman, dan saat itu aku benar-benar bimbang.

Hingga akhirnya aku meminta saran kedua orang tua, kedua orang tua memasrahkan sepenuhnya dengan ku, karena kata orang tua yang akan menjalani adalah aku, jadi terserah aku  mau di ambil atau tidak.

Dan hari itu aku benar-benar bimbang, antara sudah nyaman dengan profesi yang sekarang atau menuju mimpiku sedari duduk di bangku sekolah menengah kejuruan.

Hingga akhirnya dengan kemantapan hatiku aku memilih tetap menjadi pengajar.

Jika ditanya apakah hari ini aku menyesal tidak mengambil pekerjaan dengan gaji yang bisa dibilang lebih besar dari pada menjadi pendidik, jujur penyesalan itu tidak ada sama sekali, karena benar-benar menjadi pengajar aku nyaman, walaupun kuliah bukan jurusan pendidikan.

Setiap bertemu anak didik adalah suatu charger untuk diri sendiri, walaupun pasti awal mengajar ada beberapa kendala.

Dari perjalanan itu aku belajar bahwasannya bekerja dimanapun jangan lupa libatkan sang pencipta di setiap halnya, supaya tidak ada kata penyesalan.

Bekerja bukan hanya berupa gaji, walaupun tidak memungkiri gaji adalah yang utama ketika bekerja, namun setelah berjalan dengan dunia pekerjaan selain gaji yang utama kenyamanan tempat kerja juga menjadi hal yang utama, terutama nyaman untuk diri kita, dan untuk kesehatan mental diri kita, selain nyaman untuk diri kita, memiliki lingkungan kerja yang selalu mengingatkan akan kebaikan-kebaikan adalah bonus yang tidak terhingga.

Dari episode kehidupan ini juga aku belajar bahwasannya apapun skenario yang manusia tuliskan tetaplah ketetapan sang pencipta yang akan menetapkan, baik menurut manusia belum tentu baik menurut sang pencipta begitupun sebaliknya.

Setiap episode-episode kehidupan selalu ada pembelajaran hidupnya, dari episode ini juga aku belajar bahwasannya tugas manusia adalah menjalani episode nya dengan baik dan tetap selalu menjadi manusia yang positif thingking.

Manusia tidak pernah tau apa yang akan terjadi di persimpangan jalan hidupnya, jika memang di benturkan dengan ketidakpastian ataupun pilihan-pilihan yang membingungkan sekali lagi jangan lupa libatkan sang pencipta.

Comments